Ringkasan Berita :
- Yordania kini menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran karena wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer AS.
- Ketergantungan ekonomi dan militer Yordania pada bantuan AS senilai 2 miliar dolar AS per tahun kini membawa dampak buruk bagi keamanan dan perekonomian negara.
- Warga mulai menyalahkan kebijakan AS yang dinilai memicu konflik dan menyeret Yordania menjadi pihak yang terlibat.
- Serangan Iran menargetkan pangkalan militer AS maupun fasilitas vital Yordania, memicu ketidakamanan dan melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Amman, beritablitar.com – Pemerintah dan masyarakat Yordania kini menghadapi dilema berat seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran.
Dukungan serta bantuan dari Washington yang selama ini menjadi tumpuan kini justru berubah menjadi bumerang, karena menjadikan kerajaan itu sasaran utama serangan militer Teheran.
Selama sebulan terakhir, Iran terus meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Yordania. Sebagian besar serangan membidik pangkalan militer yang menampung pasukan AS, namun fasilitas vital dan kawasan pemukiman di Yordania pun turut terkena dampak.
Bantuan militer dan ekonomi yang diberikan Amerika Serikat kepada Yordania mencapai sekitar 2 miliar dolar AS atau setara Rp 32,4 triliun setiap tahunnya. Namun, keberadaan pasukan AS di wilayah ini serta dukungan politik Yordania terhadap kebijakan Washington kini menyeret negara itu ke garis depan konflik yang merusak stabilitas kawasan.
“Trump adalah penyebab perang ini. Amerika memaksa Yordania untuk menjadi bagian dari ini,” ujar Tahani Khalaf (63), warga Amman, seperti dikutip dari laporan The Wall Street Journal, Senin (3/8/2026).
Militer Yordania mencatat, setidaknya ada 60 serangan rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan Iran ke wilayah mereka sejak bulan Juli lalu. Salah satu serangan pada 17 Juli menghantam tempat tinggal prajurit di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti dan menewaskan tiga anggota militer AS. Selain itu, fasilitas strategis seperti Pelabuhan Aqaba juga turut menjadi sasaran tembak.
Para pengamat menilai, Teheran sengaja meningkatkan tekanan militer guna memicu gelombang penolakan publik di internal Yordania terhadap kehadiran militer asing.
Sering berbunyinya sirene bahaya udara di ibu kota Amman dan kota-kota besar lainnya telah melumpuhkan aktivitas perekonomian serta menghancurkan rasa aman masyarakat.
Di sisi lain, Amerika Serikat kini semakin membutuhkan dukungan Yordania, setelah sekutu lain di kawasan seperti Kuwait dan negara-negara Teluk Persia mulai mengurangi peran mereka dalam operasi militer. Namun, risiko yang ditanggung Yordania semakin besar, dan gelombang protes warga mulai bermunculan menuntut agar kehadiran militer asing ditinjau kembali demi kepentingan dan keamanan nasional.
Meskipun sempat ada harapan jeda setelah keputusan Presiden AS Donald Trump menunda serangan yang direncanakan akhir pekan lalu, ketidakpastian masih membayangi.
Warga Yordania berharap agar konflik ini segera usai dan negara mereka tidak lagi menjadi korban kepentingan pihak luar. (*)