Blitar, beritablitar.com - Di tengah sorotan publik dan dinamika kasus hukum yang sedang dihadapinya, penulis asal Blitar, Ahmad Baharuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Ahmad Bahar, menyempatkan waktu berziarah ke makam kedua orang tuanya di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan ini bertepatan dengan momentum peringatan Hari Lahir Bung Karno, yang dijadikan momen refleksi, memohon restu, serta mengumpulkan kekuatan batin untuk terus berjuang menegakkan kebenaran.
Kedatangan Ahmad Bahar ke kampung halaman ini bukan sekadar kunjungan biasa. Di tengah perbincangan hangat masyarakat di berbagai platform digital terkait perseteruannya dengan Rosario de Marshal atau Hercules, Ahmad Bahar justru menemukan ketenangan dan dukungan moral yang besar dari keluarga, kerabat, sahabat, hingga warga setempat yang ia temui. Dukungan tersebut menjadi modal dan energi tambahan baginya untuk tetap berdiri teguh pada prinsip yang dipegangnya.
Usai berdoa dan mendoakan orang tuanya, Ahmad Bahar berbicara kepada wartawan mengenai harapannya terhadap proses hukum yang sedang berjalan. Ia menegaskan bahwa persoalan yang menimpa dirinya dan keluarga kini menjadi perhatian publik, sehingga keadilan mutlak diperlukan tanpa pandang bulu. Baginya, aturan harus berlaku sama bagi siapa saja, tidak boleh ada yang dilindungi atau ditutup-tutupi.
"Kebetulan saya habis nyekar di makam ibu dan ayah saya. Kita ini sedang menghadapi persoalan yang menjadi perhatian publik. Saya berharap siapa pun yang salah harus dihukum dan siapa yang benar harus mendapatkan keadilan. Tidak boleh ada yang dibela atau ditutup-tutupi," kata Ahmad Bahar.
Pria yang menempuh pendidikan Sastra Arab di Universitas Gajah Mada ini juga memberikan pesan khusus dan peringatan keras kepada seluruh aparat penegak hukum, mulai dari kepolisian hingga jaksa dan hakim yang nantinya akan menangani perkaranya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat kritis, cerdas, dan mengawasi setiap proses yang terjadi secara terbuka lewat media sosial dan internet. Ia mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba memanipulasi fakta karena hal itu hanya akan merusak kredibilitas penegak hukum itu sendiri.
"Netizen sudah melihat semuanya. Hati-hati para penegak hukum, jangan sampai mempermalukan diri sendiri. Kebenaran harus ditegakkan apa adanya," tegasnya.
Dalam pernyataannya yang sarat makna, Ahmad Bahar juga menyinggung karakter masyarakat Blitar yang dikenal memiliki sejarah panjang semangat perjuangan yang tinggi. Ia mencontohkan tokoh-tokoh besar kelahiran kota ini, mulai dari Bung Karno sang Proklamator, pahlawan Supriyadi, hingga para pendahulu lainnya yang dikenal teguh pendirian, jujur, dan berani mempertahankan kebenaran meski nyawa menjadi taruhan. Semangat itulah yang diakuinya mengalir dalam darahnya dan menjadi pedoman hidup.
"Saya melihat banyak tokoh besar yang berasal dari Blitar. Kalau sudah memperjuangkan kebenaran, nyawa pun menjadi taruhannya. Ada Bung Karno, Supriyadi, hingga tokoh-tokoh lain yang dikenal jujur dan teguh pendirian. Tidak ada kata mundur dalam memperjuangkan kebenaran," jelasnya.
Ditanya mengenai doa khusus yang dipanjatkan di hadapan makam ayah dan ibunya, Ahmad mengaku memohon kemudahan serta kekuatan agar senantiasa berada di jalan yang benar dan mendapatkan perlindungan dalam setiap proses hukum yang dijalaninya. Ia mengaku sangat terharu karena setiap bertemu warga, keluarga, atau teman lama di Blitar, semuanya memberikan dukungan moral yang luar biasa besar. Dukungan itu disebutnya sebagai "vitamin" yang membuat semangatnya kembali berkobar.
"Kita minta dimudahkan, diberi kekuatan. Alhamdulillah saya bertemu keluarga, saudara, dan teman-teman, semuanya memberikan dukungan. Ini menjadi vitamin dan energi yang luar biasa bagi saya," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Ahmad Bahar menegaskan kembali tujuan utamanya menempuh jalur hukum dan berbicara di depan publik. Ia hanya menginginkan satu hal: kesetaraan di hadapan hukum.
Baginya, status sosial, kekayaan, jabatan, maupun kedekatan seseorang dengan tokoh penting tidak boleh dijadikan alasan untuk membalikkan fakta atau membebaskan seseorang dari tanggung jawab perbuatannya. Hukum, kata dia, harus tegak lurus dan sama rata.
"Saya berharap kebenaran ditegakkan sama rata. Tidak peduli apakah saya orang kecil atau berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan, kekayaan, atau kedekatan dengan tokoh penting. Semua orang harus sama di mata hukum. Saatnya kebenaran benar-benar ditegakkan," pungkas Ahmad Bahar. (jr).