Blitar, beritablitar.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput.

Hal tersebut terungkap dalam kunjungan kerja dan dialog yang dilakukan Anggota Komisi I DPRD Kota Blitar, Tan Ngi Hing, bersama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani lokal yang menjadi pemasok kebutuhan pangan bagi Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kota Blitar.

Dalam pertemuan tersebut, Tan Ngi Hing secara khusus menanyakan pandangan para pelaku usaha mengenai keterkaitan program MBG dengan kebijakan pemerintah pusat, serta bagaimana dampak program tersebut terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Para pelaku usaha yang sebagian besar adalah petani dan pengolah hasil bumi menanggapi sangat positif, bahkan berharap program strategis nasional ini terus berlanjut hingga tahun 2045, sejalan dengan visi Indonesia Emas.

Rega, Salah satu pelaku UMKM dan petani lokal yang telah lama menyuplai hasil pertanian ke SPPG mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini.

Menurut Rega, permintaan pasokan yang stabil dari program MBG menjadi pendorong utama bagi petani lokal untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani.

"Ya tentu saja dengan adanya program makan bergizi dari Pak Prabowo, kami sebagai UMKM serta petani lokal dapat meningkatkan hasil pertanian kita dan meningkatkan perekonomian kita, sehingga harapan petani lokal, agar MBG harus tetap berlanjut ya. Itulah yang menjadi harapan dari petani lokal yang punya tanaman yang bisa disuplai ke MBG dengan hasil yang betul-betul segar untuk anak-anak kita menuju emas tahun 2045," kata Rega.

Lebih lanjut, Rega menjelaskan, manfaat program ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha atau petani utama saja, tetapi telah merambat hingga ke lapisan masyarakat yang paling bawah, termasuk di wilayah pedesaan.

Sementara Haryadi, pesagang ikan segar mengaku, program ini dinilai mampu menggerakkan perputaran ekonomi yang sangat besar, di mana ratusan keluarga kini merasakan dampak positifnya, mulai dari penyediaan bahan baku hingga jasa pengolahan dan pengiriman.

"Dengan adanya MBG ini, kami melihat sangat banyak sekali perputaran ekonomi yang bisa digerakkan oleh pemerintah. Kalau bisa dikatakan, puluhan bahkan ratusan keluarga di pedesaan, di pelosok-pelosok itu, ikut tergerak perekonomiannya, terangkat perekonomiannya dikarenakan ada program ini," jelas Hariyadi.

Salah satu indikator nyata keberhasilan program ini dalam menggerakkan ekonomi adalah terbukanya lapangan pekerjaan baru. Kebutuhan pasokan yang besar dan berkelanjutan menuntut keterlibatan banyak tenaga kerja, mulai dari pengolahan bahan pangan sederhana hingga pengangkutan. Pelaku usaha menyebutkan, untuk kebutuhan sekecil apa pun, misalnya penyediaan alat makan atau bahan olahan sederhana, sudah mampu menghidupi banyak keluarga kecil.

"Sekarang item paling kecil saja, kayak tenaga cuci piring, itu yang diberikan itu berapa keluarga kecil bisa mendapatkan manfaatnya. Nah, makanya dari hal-hal kecil ini, misalnya ikan, ikan lele, mele, dan teman-teman nggak mungkin bekerja sendiri. Sampai nanti mengajak teman-teman lainnya untuk bekerja. Itu kan mengurangi pengangguran, itu kan," tandasnya.

Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja ini juga dirasakan langsung oleh usaha yang dikelolanya. Sebelum adanya program MBG, jumlah karyawan yang dibantu dan digaji hanya sekitar satu hingga dua orang.

Namun, berkat tingginya permintaan pasokan dari SPPG, jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan meningkat tajam menjadi lima hingga enam orang. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa program pemerintah mampu menyerap tenaga kerja, termasuk para sarjana yang bertugas sebagai staf pengelola di masing-masing SPPG.

"Ya, dari adanya program ini, tenaga kerja di tempat saya berdampak. Kenapa? Hubungan kerja saya dengan karyawan yang dulu hanya 1-2 orang, sekarang bisa 5-6 orang. Jadi dengan adanya program yang begini, itu sangat-sangat banyak yang terbantu. Terbantu sehingga ada yang tadinya orang tidak memiliki pekerjaan, sekarang bisa memiliki penghasilan tambahan dari adanya program ini," paparnya.

Sementara Anggota Komisi I DPRD Kota Blitar, Tan Ngi Hing menyimpulkan, bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemenuhan gizi anak, melainkan juga program penggerak ekonomi kerakyatan. Program ini menjadi jembatan yang menghubungkan hasil bumi petani lokal dengan kebutuhan gizi generasi penerus, sekaligus mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Tan Ngi Hing juga menyampaikan, apresiasi masyarakat Kota Blitar kepada Presiden Prabowo Subianto atas kebijakan yang dinilai sangat tepat sasaran ini. Harapannya, sinergi antara pemerintah dan pelaku UMKM terus terjalin kuat demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan bangsa yang lebih sejahtera menuju tahun 2045.

"Program MBG sangat bermanfaat buat masyarakat, apalagi untuk UMKM yang sekarang usahanya bisa menggajakan tetangga kanan-kirinya yang belum bekerja, diajak ikut serta. Demikian yang perlu kami sampaikan, terima kasih Bapak Prabowo dan program MBG ini untuk anak-anak kita menuju tahun 2045 Indonesia Emas," pungkas Tan Ngi Hing mengutip aspirasi warga. (jr).