Ringkasan Berita :

- Romy Soekarno bersama KPU Blitar gelar sosialisasi pendidikan pemilih berkelanjutan, Senin (21/9/2026).

- Fokus sasaran Gen Z — diproyeksikan 52% pemilih Pemilu 2029; dinilai masih murni, bisa dibentuk karakternya.

- Romy: tanam jiwa merdeka, tolak hoaks, buzzer, dan politik uang; pahami dampak 5 tahun ke depan.

- KPU Blitar: harap sosialisasi tingkatkan kualitas demokrasi, tekan praktik manipolitik; anggaran terbatas.
​ - Diperkirakan lebih dari 3.000 pemilih pemula di Blitar masuk kategori Gen Z.

BLITAR, beritablitar.com - Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Blitar menggelar sosialisasi pendidikan pemilih berkelanjutan Tahun 2026, Senin (21/9/2026).

Kegiatan ini secara khusus menyasar Generasi Z yang diproyeksikan menjadi kelompok pemilih terbesar pada Pemilu 2029.

Romy menjelaskan, alasan pemilihan Gen Z sebagai sasaran utama. Kelompok ini diprediksi mengisi sekitar 52 persen total pemilih pada pemilu mendatang.

"Kegiatan sosialisasi untuk pemilih pemula, karena saya mintanya Gen Z, karena Gen Z itu nanti kan tahun 2029 sekitar 52 persen akan menjadi pemilih di pemilu yang akan datang," kata Romy.

Romy menilai Gen Z masih berada dalam kondisi yang murni sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat ditanamkan dengan baik.

"Karena masih murni, menurut saya Gen Z itu masih bisa saya berikan arahan bagaimana berjiwa merdeka, bagaimana mengatasi detrupsi digital, kedaulatan digital kita yang tergerus oleh literasi yang hoax, buzzer, dan juga legitimasi yang bermacam-macam yang menyudutkan orang secara digital," tandasnya.

Harapan utama dari pembinaan ini adalah terbentuknya karakter yang kuat sehingga tidak mudah dipengaruhi informasi menyesatkan maupun praktik politik uang.

"Harapan saya ya mereka mempunyai moral dan karakter building sehingga mereka tidak mempan terhadap hoax, buzzer dan lain-lainnya dan juga politik uang karena politik uang sudah menjadi kultur," tegas Romy.

Romy mengajak para pemilih muda untuk berpikir jangka panjang, tidak tergiur imbalan sesaat.

"Nah, bagaimana cara supaya politik uang itu bisa ditolak oleh mereka? Mereka harus mempunyai jiwa merdeka itu. Di mana jiwa merdeka itu adalah berani mengatakan tidak pada 100 ribu yang dibagi 5 tahun hanya berapa rupiah. Sedangkan 5 tahun itu efek karambolnya adalah ekonomi, geopolitik, moralisme, dan lain-lainnya," pungkas cucu Bung Karno.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Blitar, Sugino menyampaikan, kolaborasi ini bertujuan mempersiapkan pemilih yang cerdas demi kualitas demokrasi yang lebih baik.

"Hari ini KPU bersama Komisi 2 sosialisasi berkaitan pendidikan pemilih untuk menyongsong pemilu tahun 2029. Untuk hari ini sasarannya memang Gen Z, karena termasuk menjadi pemilih yang lumayan banyak ya di pemilu 2029," jelas Sugino.

Diharapkan melalui pendekatan berkelanjutan, praktik-praktik yang merugikan demokrasi dapat berkurang.

"Harapan kita adanya sosialisasi seperti ini ya, nanti kualitas demokrasi kita lebih baik. Sehingga hal-hal yang mungkin kayak manipolitik bisa sedikit demi sedikit bisa diminimalisir," ujarnya.

Berdasarkan perkiraan, jumlah pemilih pemula yang masuk kategori Gen Z di Kabupaten Blitar mencapai lebih dari 3.000 orang. Sigiono mengakui upaya menjangkau seluruh kelompok pemilih masih menghadapi keterbatasan anggaran.

"Kalau secara pasti sih kita belum cek ya, sekitar 3.000 lebih ya untuk pemilih pemula tahun 2029 ini. Kita optimalkan. Karena untuk kegiatan seperti ini tentu kita sangat terbatas ya untuk anggaran dan sebagainya," tandasnya. (jr)