Ringkasan Berita :

- Polda Metro Jaya imbau warga tak terprovokasi isu kerusuhan Agustus
- Situasi Jakarta dinyatakan aman dan kondusif
- Ahli sebut keresahan terkait trauma masa lalu dan kondisi sosial saat ini
JAKARTA, beritablitar.com - Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh desas-desus mengenai potensi kerusuhan pada Agustus 2026 yang belakangan ramai beredar di ruang digital. Sampai saat ini, situasi keamanan di wilayah Jakarta terpantau aman dan kondusif.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto sebagaimana dilaporkan Kompas.com, 6 Agustus 2026. Pernyataan itu disampaikan dalam tayangan Kompas TV program Satu Meja pada Rabu (5/8/2026).

“Kalau hanya terkait kritik tidak ada masalah, tapi kalau sudah ke arah provokasi sehingga persepsi dan psikologis ini terbawa untuk melakukan sesuatu perbuatan,” kata Budi.

Buher sapaan akrab Budi Hermanto mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai prediksi maupun spekulasi yang belum tentu memiliki dasar yang jelas.

“Kami Polda Metro Jaya selalu akan menyampaikan situasi terkini. Dan sampai detik ini kami sampaikan bahwa situasi Jakarta masih aman dan kondusif, dan seluruh masyarakat dapat melakukan aktivitas seperti semula,” tandasnya.

Di tengah ramainya isu tersebut, muncul pula fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya.

Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan 1998 Profesor Hermawan Sulistyo menilai hal itu wajar karena masih adanya trauma sebagian pelaku usaha terhadap peristiwa masa lalu.

“Kalau dari perspektif pengusaha, pemilik mal, itu wajar saja. Karena referensi utama mereka adalah tahun 1998, bagaimana mal-mal dijarah,” jelas Hermawan.

Meski demikian, Hermawan menegaskan, kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan tahun 1998. Perkembangan teknologi dan internet telah mengubah pola penyebaran informasi maupun mobilisasi massa secara signifikan.

“Dulu tidak ada internet, sekarang internet. Internet bisa menyebarkan hoaks, berita bohong. Dia bisa menjadi instrumen konsolidasi gerakan untuk demo, tetapi di sisi lain juga menjadi media komunikasi yang bocor ke mana-mana,” ujarnya.

Hermawan menambahkan, keresahan yang muncul belakangan bukan semata dipicu isu demonstrasi, melainkan juga dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan memiliki tanggung jawab bersama meredam faktor pemicu agar situasi tetap kondusif. (*)