Blitar, beritablitar.com - Para pedagang di Pasar Legi, Kota Blitar, menyampaikan keluhan yang mendalam dan berlarut-larut. Selama puluhan tahun mereka rutin membayar pungutan setiap hari, namun kesejahteraan dan kenyamanan berdagang justru makin menurun.

Setiap hari, masing-masing pedagang membayar retribusi sebesar Rp6.000. Bukan hitungan bulan atau tahun, melainkan berpuluh-puluh tahun pungutan ini berlangsung tanpa putus. Namun kenyataannya, apa yang diserahkan tidak kembali dalam bentuk pemeliharaan yang layak.

"Dulu, pagi buta sudah ramai. Sepeda pembeli berjejer panjang di luar, sampai siang pun masih ramai. Sekarang? Sudah siang, pelanggan belum tentu datang. Tempat sepi, sunyi," ungkap salah satu pedagang yang sudah puluhan tahun berdagang di sana.

Perubahan paling nyata terlihat pada kebersihan pasar. Dulu, petugas rutin menyapu, mengepel, dan menjaga lingkungan tetap bersih setiap hari. Kini, sosok petugas kebersihan itu nyaris tak terlihat. Lantai pasar pun terlihat berdebu, kotoran menumpuk, dan tidak ada upaya pembersihan yang memadai.

"Kalau dulu, ada yang menyapu, ada yang mengepel. Sekarang siapa yang mau mengepel? Tidak ada. Lantai kotor dibiarkan. Pembeli pun enggan datang kalau tempatnya tidak bersih," tambahnya.

Masalah fasilitas tak kalah memprihatinkan. Listrik di tempat usaha masing-masing ditanggung sendiri oleh pedagang, tanpa bantuan atau pengaturan dari pengelola. Sementara itu, bangunan kamar mandi jumlahnya dinilai berlebihan, namun kondisinya rusak, tidak terawat, dan tidak bisa dimanfaatkan.

"Kamar mandi banyak, tapi tidak dipakai, tidak dijaga. Sementara kami listrik sendiri, kebersihan sendiri. Kalau begitu, untuk apa kami bayar Rp6.000 tiap hari selama puluhan tahun? Ke mana perginya uang itu?" tanyanya.

Para pedagang tidak menolak membayar, mereka hanya ingin apa yang diserahkan dikelola dengan jujur dan dikembalikan dalam bentuk layanan nyata, kebersihan terjaga, fasilitas berfungsi, dan pasar kembali ramai.

Mereka berharap pihak berwenang segera meninjau pengelolaan Pasar Legi, memeriksa peruntukan dana retribusi, dan melakukan perbaikan menyeluruh.

Menanggapi keluhan para pedagang Pasar Legi terkait sepinya pembeli,

Ketua Komisi II DPRD Kota Blitar, Yohan Tri Waluyo, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi pasar Legi saat ini, dimana kebersihan yang diabaikan, serta pengelolaan fasilitas yang dinilai tidak memadai.

"Kami dengar dan pahami betul keluhan saudara-saudara pedagang di Pasar Legi. Selama puluhan tahun membayar retribusi Rp6.000 setiap hari, wajar jika saudara berharap kebersihan terjaga, fasilitas berfungsi, dan pasar tetap hidup," jelas Yohan.

Yohan menegaskan, Komisi II melakukan peninjauan langsung serta meminta penjelasan resmi kepada Dinas terkait mengenai peruntukan dan penggunaan dana retribusi yang dipungut selama ini.

"Kami akan telusuri ke mana aliran dana itu. Apakah benar-benar dipakai untuk pemeliharaan pasar atau tidak. Kebersihan, listrik, kamar mandi, semua itu harus jelas tanggung jawabnya. Tidak boleh pedagang bayar sendiri-sendiri sementara uang retribusi tidak terlihat hasilnya," tegasnya.

Yohan juga menekankan pentingnya mengembalikan daya tarik Pasar Legi agar kembali ramai pembeli.

"Pasar rakyat milik warga, harus hidup dan sehat. Kami minta dinas terkait segera menyusun langkah nyata, jadwal kebersihan dipastikan berjalan, kerusakan fasilitas diperbaiki, dan transparansi anggaran dipublikasikan. Semua ini demi kepentingan pedagang dan masyarakat luas," pungkas Yohan.

Pasar rakyat adalah jantung perekonomian warga. Jika pasar sehat, pedagang tenang, pembeli nyaman, dan ekonomi masyarakat pun berputar. Itulah harapan sederhana yang disampaikan para pedagang Pasar Legi. (jr)