BLITAR, beritablitar.com  - Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nurhadi mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Blitar.

Seruan itu disampaikan saat sosialisasi program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) di Gedung Serbaguna Desa Slorok, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Senin (28/9/2026).

Nurhadi menyoroti angka stunting di Blitar yang berada di kisaran 17 persen. Meski masih di bawah angka nasional, ia menilai besaran itu tetap tinggi jika dibandingkan daerah tetangga, seperti Kabupaten Tulungagung yang mencatat sekitar 13 persen.

"Angka stunting di Blitar masih di kisaran 17 persen. Walaupun masih di bawah angka nasional, menurut saya ini masih tinggi. Karena Tulungagung sekitar 13 persen," kata Nurhadi.

Penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya mengandalkan pemerintah. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta penggerak di tingkat desa dinilai sangat penting untuk memperkuat edukasi dan kesadaran setiap keluarga.

"Kita melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari berbagai tokoh, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, maupun penggerak lainnya. Harapannya masing-masing sadar betapa pentingnya kita untuk menekan angka stunting," jelasnya.

Persoalan stunting bukan sekadar masalah kesehatan anak saat ini, melainkan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Menuju visi Indonesia Emas 2045, generasi yang dipersiapkan harus tumbuh sehat dan berkualitas.

"Ketika angka stunting masih tinggi, sangat mungkin di Kabupaten Blitar ke depan muncul generasi-generasi yang bukan generasi emas. Kita menuju 2045, Indonesia Emas, berarti generasinya harus generasi emas, jangan sebaliknya menjadi generasi cemas," tegas Nurhadi.

Nurhadi berharap Kabupaten Blitar terus menekan angka stunting, bahkan menjadikan target nol stunting sebagai cita-cita yang diupayakan bersama.

Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Nurhadi menyatakan dukungannya, namun menekankan pentingnya ketepatan sasaran. Program sebaiknya diprioritaskan bagi kelompok yang benar-benar membutuhkan, tidak perlu diberikan kepada anak-anak dari keluarga mampu.

"Saya sangat setuju MBG diprioritaskan bagi anak-anak yang membutuhkan. Kalau untuk sekolah, anak-anak orang kaya saya kira tidak perlu, karena dimungkinkan tidak membutuhkan," tandasnya.

Nurhadi mengamati manfaat langsung MBG di wilayah pelosok, di mana banyak anak baru pertama kali mendapat asupan gizi layak melalui program tersebut.

"Saya lihat di pelosok-pelosok desa sangat dibutuhkan. Bahkan ada anak-anak yang baru pertama kali makan buah anggur ketika melihat atau menyantap MBG," jalasnya.

Untuk daerah perkotaan, seleksi penerima perlu diperketat agar anggaran efektif.

"Di daerah-daerah perkotaan harus selektif. Di sekolah-sekolah menengah ke atas, khususnya anak-anak dari orang yang mampu, saya kira MBG tidak perlu," ujarnya.

Ketepatan sasaran MBG, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita — memiliki kaitan langsung dengan upaya pencegahan stunting.

"Kalau untuk menekan angka stunting ada korelasinya, kalau tepat sasaran. Termasuk juga untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," pungkasnya.

Pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan perhatian terhadap pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak tumbuh kembang, serta sinergi seluruh pihak. Melalui sosialisasi Bangga Kencana, Nurhadi berharap kesadaran masyarakat meningkat, keluarga sehat terwujud, dan generasi berkualitas siap menyambut Indonesia Emas 2045. (jr)