Ringkasan Berita :
• Mantan Pengelola Makam Bung Karno Heru Santoso tak sependapat kawasan dibuka 24 jam, sebut perputaran ekonomi akan terhenti.
• Kebijakan dinilai merugikan pedagang, homestay, tukang becak dan pemilik kios; berpotensi timbulkan masalah keamanan.
• Heru menyoroti janji kampanye soal akses kendaraan tak terwujud, apalagi kondisi ekonomi saat ini sedang sulit.
• Minta kebijakan dikaji matang untung-ruginya, jangan diambil terburu-buru karena menyangkut hajat hidup warga.
BLITAR, beritablitar.com - Kebijakan pembukaan kawasan Makam Bung Karno selama 24 jam menuai kritik tajam dari pihak yang berpengalaman mengelola lokasi tersebut.
Heru Santoso, mantan Pemangku Kepala Pengelola Kawasan Wisata Makam Bung Karno yang menjabat selama 21 tahun (2001–2022), menyatakan ketidaksetujuannya secara tegas.
Menurut Heru, dampak utama kebijakan ini justru melumpuhkan roda ekonomi di sekitar lokasi wisata.
“Memang kurang sependapat apabila Makam di Buka 24 jam. Dampaknya perputaran ekonomi di kawasan wisata gak jalan utamanya pelaku wisata baik para pedagang, homestay, tukang becak, pemilik kios,” kata Heru Santoso, Sabtu (29/8/2026).
Lebih lanjut Heru menuturkan, wacana pembukaan nonstop ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Berdasarkan pengalaman di lapangan, ia kerap menyampaikan masukan kepada pimpinan maupun anggota dewan. Salah satu alasan utamanya adalah risiko keamanan yang sempat memanas akibat isu teror di masa lalu.
“Sebetulnya Wacana itu sejak dulu, namun saya yang mengetahui di lapangan memberikan masukan pada pimpinan maupun Anggota Dewan. Permasalahan akan menimbulkan Dampak termasuk juga keamanan pada waktu itu ramai berita Bom Boman,” jelasnya.
Kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini sedang tidak stabil menjadi alasan tambahan mengapa kebijakan ini dianggap sangat tidak tepat.
“Apalagi sekarang perekonomian tidak baik baik saja. Kasian para pelaku wisata yang ada di Kawasan banyak yang mengeluh,” tambahnya.
Heru menegaskan, setiap keputusan strategis harus melalui analisis mendalam, bukan sekadar keinginan sepihak.
“Hal semacam ini harusnya di kaji dulu. Plus minusnya. Jangan main pokoknya,” tegasnya.
Heru juga menyoroti ketidaksesuaian antara janji politik saat Pilkada dengan kenyataan yang dirasakan warga.
“Dulu waktu Pilkada janjinya Portal di buka sehingga kendaraan pribadi bisa masuk. Namun kenyataannya. Mohon maaf ini masalah urusan perut,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Pihak berwenang diharapkan lebih peka terhadap kebutuhan hidup warga yang menggantungkan nasibnya di kawasan Makam Bung Karno. (jr)