Ringkasan Berita :

- Eva Cindy Zanuarita asal Blitar, mahasiswi UNESA, lolos jadi pemain trompet Orkestra Gita Bahana Nusantara.

- Baru belajar musik klasik setahun, ia berjuang melawan rasa tidak percaya diri hingga akhirnya terpilih tampil di Istana Negara.

- Putri juru foto Makam Bung Karno ini kini ikut karantina persiapan meriahkan HUT RI ke-81.

BLITAR, beritablitar.com - Kebanggaan datang dari Kota Proklamator! Eva Cindy Zanuarita, mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) asal Kota Blitar, resmi lolos menjadi personel Orkestra Gita Bahana Nusantara (GBN) yang akan memainkan alat musik tiup trompet dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia 2026 di Istana Negara, Jakarta.

Eva adalah warga Jalan Borobudur No.76, RT/RW 05/10, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Ia merupakan putri dari pasangan Darmuji dan Rusiani, yang bekerja sebagai Juru Foto di Makam Bung Karno Kota Blitar. Lulusan SMA Negeri 2 Blitar ini kini menempuh pendidikan S1 Jurusan Musik di UNESA.

Menceritakan perjalanannya, Eva mengaku awalnya sama sekali belum mengetahui adanya seleksi terbuka GBN.

"Awalnya saya belum tahu apa itu GBN, saya kira yang main di Istana Merdeka itu orang-orang yang memang sudah ada di sana, tidak tahu kalau ternyata itu rekrutmen terbuka untuk seluruh daerah," ungkap Eva.

Eva baru menyadari hal tersebut saat masuk kuliah.

"Dibilangin sama asisten dosen saya, 'kalau Eva kamu tahun ini harus ikut seleksi GBN ya'. Saya tanya, 'GBN itu apa Pak?', lalu dijelaskan bahwa GBN adalah orkestra dan paduan suara yang akan mengiringi upacara 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta. Saya sangat kaget saat itu," jelasnya.

Meski sejak SD sudah memiliki dasar bermain trompet lewat kegiatan drum band di SD Bendogerit Kota Blitar, Eva mengaku baru mulai mendalami musik klasik serta cara membaca not balok dan partitur pada semester pertama tahun 2025. Hal ini membuatnya sempat merasa ragu dan tidak percaya diri.

"Saya baru belajar musik klasik tahun 2025 kemarin pas masuk kuliah. Sebelumnya cuma drum band, bukan yang fokus ke klasik. Saya kaget, merasa tidak percaya diri, takut, pasti saya pikir yang ikut seleksi itu orang-orang hebat semua," ujarnya.

Namun dukungan terus diberikan oleh pihak kampus.

"Dosen bilang, Kamu pasti bisa, yakinlah kamu pasti lolos tahun ini, pokoknya latihan saja terus, yang paling penting belajar baca not balok'. Meskipun saya tetap belum yakin, saya tetap ikuti saran itu dan latihan bersama-sama," tandasnya.

Saat materi seleksi resmi dirilis, Eva sempat merasa bingung dan tertekan karena belum memahami teori musik secara mendalam.

"Saya bingung melihat materinya, belum paham sama sekali. Akhirnya saya bertanya kepada teman-teman yang lebih paham teori musik. Saya sempat stres berat, tapi saya bertekad nekat, ya sudah saya ikuti saja seleksinya," ceritanya.

Tahap pertama seleksi dilakukan dengan mengirimkan video penampilan dan berkas persyaratan secara daring. Tak lama kemudian, kabar gembira datang: namanya tercantum lolos ke tahap seleksi lanjutan di Yogyakarta.

"Saya kaget, tidak percaya kok bisa lolos. Tapi justru makin takut karena pasti materinya lebih sulit dan mendadak," katanya.

Di Yogyakarta, Eva mengakui kemampuannya masih jauh dari kata sempurna, termasuk dalam tes membaca partitur secara langsung atau prima vista.

"Saya sudah pesimis, berpikir kalau tidak lolos tidak apa-apa, tahun depan saya coba lagi sampai batas usia maksimal," ungkapnya jujur.

Namun takdir berkata lain. Saat pengumuman hasil seleksi tahap akhir dibacakan, nama Eva Cindy Zanuarita justru terpilih, sementara teman seperjuangannya dari UNESA tidak lolos.

"Saya sedih karena tidak ada teman, tapi saya juga sangat senang dan tidak menyangka bisa lolos," ucapnya.

Kini Eva tengah mengikuti masa karantina persiapan di kawasan Kinasih, Depok, sejak keberangkatannya dari Blitar tanggal 1 Agustus menggunakan kereta api dengan pengaturan seluruh kebutuhan ditanggung panitia.

Rutinitasnya sangat padat: bangun pukul 04.00 WIB untuk olahraga, bersih-bersih lingkungan, sarapan, kemudian langsung memulai latihan orkestra yang berlangsung hingga tujuh jam sehari dibagi dalam lima sesi. Penggunaan gawai pun dibatasi hanya satu jam sehari.

"Latihannya memang berat, tapi saya senang bisa menambah pengalaman dan ilmu baru. Rencananya saya akan kembali ke Blitar tanggal 20 Agustus nanti," jelas Eva.

Eva berpesan agar siapa pun yang memiliki mimpi jangan takut mencoba.

"Jangan pernah ragu untuk mencoba, meski merasa belum mampu, usaha dan doa pasti akan membawa hasil," pungkasnya. (jr)