Ringkasan Berita :
• Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pagi, memicu keluarnya Peringatan Dini Tsunami oleh BMKG.
• BMKG menetapkan delapan wilayah dalam status Siaga dan 13 wilayah dalam status Waspada, dengan estimasi kedatangan gelombang pertama antara pukul 05.02 hingga 06.41 WIB.
• Peringatan dini tsunami resmi dihentikan pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan tidak menunjukkan potensi gelombang destruktif, meski masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gempa susulan.
JAKARTA, beritablitar.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengakhiri Peringatan Dini Tsunami (PDT), Sabtu (15/8/2026) pukul 07.30 WIB, menyusul gempabumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebelumnya. Keputusan ini diambil setelah hasil pemantauan tidak menunjukkan adanya anomali gelombang signifikan yang berpotensi merusak pesisir.
Sebelumnya, gempa dengan pusat titik di 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer tersebut terjadi pada pukul 04.58 WIB. Merespons parameter gempa yang kuat dan dangkal, BMKG segera mengeluarkan PDT hanya dua menit setelah guncangan awal.
Dalam keterangan resminya, BMKG menetapkan delapan wilayah dalam status Siaga, di mana pemerintah daerah diminta segera mengarahkan warga untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Sementara itu, 13 wilayah lainnya ditetapkan dalam status Waspada, dengan instruksi untuk menjauhi pantai dan tepian sungai.
"Estimasi waktu tiba gelombang pertama di wilayah-wilayah tersebut berada antara pukul 05.02 WIB hingga 06.41 WIB," demikian bunyi keterangan resmi BMKG yang dikutip ANTARA.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menjelaskan, penetapan status didasarkan pada analisis parameter gempa dan pemodelan numerik cepat. Ia menekankan pentingnya respons cepat masyarakat terhadap instruksi otoritas setempat.
"Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan evakuasi dari pemerintah daerah, BPBD, dan BNPB. Kecepatan respons masyarakat dalam merespons instruksi evakuasi sangat menentukan keselamatan jiwa," ujar Wijayanto.
Wilayah-wilayah yang masuk dalam kategori Siaga dan Waspada mencakup sebagian besar pesisir Pulau Flores, serta beberapa area di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang berada dalam status Awas atau potensi tsunami destruktif.
Hingga pukul 07.30 WIB, setelah memantau kondisi perairan dan memastikan tidak adanya kenaikan muka air laut yang berbahaya, BMKG menyatakan Peringatan Dini Tsunami telah berakhir. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai kemungkinan gempa susulan yang masih berpotensi terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat di wilayah Cincin Api Pasifik untuk selalu siap siaga.
"Peringatan dini ini adalah bentuk antisipasi kami. Kami berharap tidak ada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang berarti," tambahnya.
Pasca-guncangan, sejumlah warga di Nagekeo dan sekitarnya dilaporkan sempat melakukan evakuasi mandiri menuju area terbuka yang lebih tinggi. Pemerintah setempat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengerahkan personel untuk memantau kondisi pesisir dan memastikan keamanan warga kembali ke permukiman masing-masing setelah situasi dinyatakan kondusif. (jr)