Ilustrasi

Oleh : Amelia Jemy, Mahasiswa Universitas Sampoerna

Salah satu cita-cita dari penerapan sistem PPDB secara zonasi adalah menghilangkan kasta dalam dunia pendidikan, sekolah favorit dan tidak favorit. Dua tahun sudah sejak pertama kali PPDB sistem ini dilakukan kembali, namun harapan yang digantungkan tidak segera melebur pada realitas. Pasalnya pandangan publik terhadap sekolah favorit sudah terlalu dominan dan berurat akar sangat lama dalam memori bangsa Indonesia.

Seluruh sekolah seharusnya menyajikan kualitas pendidikan yang sama untuk para siswanya. Lalu mengapa harus ada istilah sekolah terbaik, atau yang lebih dikenal dengan ‘sekolah favorit’? Istilah sekolah favorit dilontarkan masyarakat untuk sekolah yang dianggap memiliki keunggulan akademis.

Masalah PPDB Sekarang

Kini sudah dua tahun lamanya setelah sistem PPDB berbasis zonasi diterapkan di Indonesia. Sistem zonasi yang dicanangkan dapat menghilangkan stigma sekolah favorit nyatanya masih belum cukup untuk mengubah pikiran masyarakat.

Dalam praktiknya banyak keluarga yang rela memalsukan Surat Domisili Keluarga (SKD) agar anaknya dapat masuk ke ‘sekolah favorit’ dengan jalur zonasi. Pada Juni 2020 terdapat 1007 SKD yang terindikasi palsu di Jawa Tengah. Meskipun persentase pemalsuan SKD yang telah terjadi belum dalam skala masif, hal ini menunjukkan bahwa stigma ‘sekolah favorit’ masih melekat di masyarakat.

Kualitas fasilitas secara infrastruktur dan pengajar membuat para wali dan peserta didik masih belum bisa berhenti terobsesi dengan sekolah favorit. Pasalnya dalam pemetaan kualitas sekolah sendiri, sekolah yang berada di daerah yang jauh dari pusat kota terbukti memiliki kualitas lebih rendah daripada sekolah di kota.

Ada 88,8 persen sekolah di Indonesia di jenjang wajib pendidikan 12 tahun belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Ada banyak bangunan sekolah yang layak, namun tidak bisa dikatakan nyaman karena renovasi yang tak kunjung usai, bangunan yang terlalu sempit, atau bahkan lingkungan yang kumuh. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas laboratorium sains yang lengkap sehingga kegiatan belajar mengajar tidak bisa dilakukan secara maksimal. Banyak sekolah yang tidak memiliki jumlah buku pelajaran yang memadai sehingga siswa mau tidak mau harus berbagi buku dengan siswa lain atau membeli bukunya sendiri.

Sekolah favorit dipandang dapat menyediakan fasilitas yang wali murid harapkan didapat oleh para peserta didik. Fasilitas yang dimaksud tidak hanya berupa barang-barang seperti teknologi laboratorium dan ruang kelas, namun juga ditentukan oleh kualitas pengajar.

Lama berdirinya sebuah sekolah juga mungkin menjadi faktor yang besar. Sekolah lama lebih berpotensi untuk memiliki citra baik di mata masyarakat. Tidak akan mudah bagi sekolah baru untuk berdiri dengan satu kebanggaan yang sama dengan sekolah-sekolah yang telah ada sejak puluhan tahun lamanya.

Di tahun ini masih ada sebagian masyarakat yang merasakan ketimpangan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Maka dari itu beberapa orang masih beranggapan bahwa peserta didik harus masuk sekolah tertentu untuk bisa merasakan pembelajaran yang terbaik.

Pemerataan fasilitas dan infrastruktur

Memang, infrastruktur dan kualitas lingkungan fisik bukanlah segalanya, namun hal yang lekat dengan sekolah favorit adalah kualitas dari lingkungan fisik dari tempat belajar.

Mengapa tidak meratakan ini ke seluruh sekolah? Kualitas lingkungan fisik yang setara akan membuat anggapan bahwa Sekolah A lebih baik dari Sekolah B hilang bertahap.

Kelengkapan alat dan bahan mengajar juga akan menunjang kualitas sebuah sekolah. Dinas Pendidikan harus memastikan bahwa setiap sekolah memiliki kesetaraan alat penunjang pendidikan. Setiap siswa di sekolah layak untuk mendapatkan laboratorium sains dan komputer hingga bahan bacaan yang sama. Sudah semestinya seluruh sekolah memiliki kesetaraan teknologi dan bahan pustaka.

Upaya pemerintah dalam pemerataan pembangunan sekolah di Kota Blitar beberapa tahun belakangan terbilang cukup drastis. Penambahan beberapa gedung baru dan perbaikan kerusakan masih menjadi prioritas. Upaya pemerintah untuk menyamaratakan pendidikan masih harus terus berlanjut.

Pemerataan kualitas guru

Sekolah favorit juga identik dengan memiliki guru yang berkualitas. Seorang gurulah yang memiliki peran paling penting dalam mengawal peserta didik menimba ilmu. Artinya, pengajar merupakan seseorang yang kompeten melakukan tugasnya untuk mencerdaskan peserta didik.

Memiliki guru yang berkualitas menjadi kunci kenyamanan belajar siswa. Tidaklah berarti lingkungan fisik apabila tidak diimbangi dengan iklim sekolah. Seorang guru yang tidak kompeten dapat membuat kegiatan belajar mengajar tidak efektif.

Pasalnya, seorang guru yang tidak kompeten menangani kelasnya menimbulkan atmosfer tidak nyaman. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan pemerataan kenyamanan kegiatan belajar mengajar.

Dalam hal ini Dinas Pendidikan perlu menggalakkan pelatihan guru. Bukan hanya dalam penyampaian materi sebagai sebuah pengetahuan, guru juga perlu pelatihan untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa.

Dukungan minat dan bakat siswa

Salah satu anggapan masyarakat tentang ‘sekolah favorit’ adalah sekolah tersebut mampu menjadi ‘sekolah juara’ dalam berbagai bidang. Terwujudnya hal ini tentu saja dikarenakan adanya dukungan sekolah kepada siswa. Terfokusnya beberapa sekolah dalam satu atau dua bidang ekstra atau bahkan hanya fokus ke akademik saja bisa membuat potensi siswa menemukan bakatnya semakin tipis.

Setiap siswa berhak untuk mendapatkan bantuan terhadap kesulitan yang dihadapinya secara akademik maupun non-akademik. Sekolah tidak seharusnya menjadi alasan mengapa seorang siswa melepaskan kegemaran atau keahliannya di bidang tertentu. Justru sekolah harus mendukungnya dengan memberi arahan dan memfasilitasi siswa.

Hal ini bisa diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler dengan fasilitas dan guru pembimbing yang sesuai. Sekolah semestinya menyediakan fasilitas penunjang ekstrakurikuler seperti alat kesenian, alat olahraga, dan lain-lainnya. Guru pembimbing harus mampu menjawab dan mengarahkan siswa dalam bidang yang diminatinya.

Guru dan sekolah juga harus mendorong siswa untuk dapat aktif mengikuti kompetisi di bidang yang disukainya. Berlatih untuk sebuah kompetisi akan membuat siswa menjadi lebih disiplin dan berkomitmen terhadap minatnya. Selain dapat menambah pengalaman siswa, memenangkan perlombaan juga akan menaikkan nama sekolah di mata publik. Pun apabila siswa belum berhasil memenangkan perlombaan tersebut, siswa dan sekolah sudah memiliki kesiapan diri dan karakter yang kuat untuk menjadi juara.

Memperbaiki cara berpikir

Meratakan pendidikan bukanlah hal yang mudah, banyak kendala yang harus dilalui berbagai pihak yang terlibat. Dalam hal ini peran orang tua dan lingkungan diperlukan untuk tidak membuat peserta didik merasa gagal untuk masuk ke sekolah yang bergengsi.

Pada dasarnya sekolah adalah sebuah institusi berintegritas yang berdiri dengan landasan membangun pendidikan bangsa, dan karena itu seluruh sekolah memiliki hakikat yang sama terlepas dari bagaimana pandangan seseorang terhadapnya. Menanamkan cara pikir seperti ini sangat diperlukan demi menghapus istilah ‘sekolah favorit’ dari anggapan masyarakat. (*)

Warga Garum Blitar Tersengat Listrik Hingga Tewas Saat Tebang Pohon Bambu
Hampir Sebulan Jalani Isolasi Mandiri, Warga Rembang Gelar Tumpengan
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.