Ilustrasi

Oleh : Annisa Putri Penika dari Universitas Sampoerna 

Polemik yang telah muncul selama beberapa bulan terakhir, menunjukkan keresahan para pelaku pendidikan terkait pembelajaran di tengah pandemi ini. Salah satu dampak cukup serius dari pandemi Covid 19 ini adalah keharusan lembaga pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik dengan maupun tanpa internet. Namun, kebijakan untuk menerapkan e-learning ini tidak didukung dengan perangkat dan sistem yang menyeluruh. Hal ini berimbas kepada pembelajaran e-learning yang menjadi tidak efektif.

Kesulitan Untuk Beradaptasi

Pembelajaran jarak jauh rasanya kurang pas saat ini, jika diterapkan kepada siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Suatu hal yang awalnya dilakukan dengan tatap muka harus berganti dengan pembelajaran jarak jauh dengan metode yang seadanya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh KPAI kepada 1.700 siswa, 79,9 persen interaksi belajar yang dirasakan pada saat di ruang kelas sudah hilang. Sekitar 20,1 persen adalah persentase yang tersisa untuk interaksi antara siswa dan guru nya selama pembelajaran jarak jauh berlangsung.

Hal tersebut tentunya memberikan dampak kepada siswa, karena mereka seakan menjadi ‘buta’ dengan hal yang terjadi pada materi yang seharusnya mereka dapatkan saat di sekolah.

Tugas-tugas yang diberikan bukan lagi menjadi sebuah refleksi diri untuk mengukur kemampuan seorang siswa, melainkan hanya untuk mendapat sebuah nilai sebagai bentuk pembuktian diri. Berpartisipasi mengikuti pembelajaran seakan menjadi satu-satu nya syarat tanpa menimbang apakah materi di dalam tugas sudah tercerna dengan baik atau malah sebaliknya.

Ada baiknya jika opsi untuk menyiapkan fasilitas yang sederhana, namun dapat dimanfaatkan oleh para siswa di rumah sebagai langkah untuk mendukung pembelajaran di rumah. Seperti pembuatan video singkat oleh tenaga pengajar, dapat diaplikasikan. Hal tersebut berisi materi yang akan dijadikan sebagai bahan ajar yang bisa dipahami oleh siswa. Sesi diskusi mungkin juga dapat dilakukan oleh para guru, siswa, dan orang tua siswa di jam tertentu sesuai kesepakatan bersama yang nantinya tidak akan memberatkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Hal ini tentunya tidak akan menyenangkan semua pihak, terutama para siswa yang berada di daerah terpencil. Oleh karena itu, para siswa yang sekolahnya benar-benar tidak bisa menerapkan metode pembelajaran seperti ini, bisa tetap mengikuti pembelajaran tatap muka dengan mempertimbangkan protokol-protokol kesehatan sebelum memulai pelajaran.

Salah satu tolok ukur kesuksesan pembelajaran jarak jauh untuk siswa di rumah pada beberapa kesempatan, tak lepas dari adanya bimbingan para orang tua. Pada dasarnya, orang tua diharapkan dapat menjadi pengawas dan faktor pendorong keaktifan anaknya dalam partisipasi pembelajaran di rumah. Sehingga dengan adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan siswa, hasil yang diharapkan dari pembelajaran jarak jauh dapat berjalan dengan maksimal.

Ketidaksiapan Metode Baru

Dilihat dari kacamata Perguruan Tinggi, para mahasiswa merasa kewalahan untuk menghadapi kuliah online yang dilaksanakan serentak di seluruh daerah di Indonesia. Beberapa hal dirasa masih perlu diperbaiki, diantaranya adalah pelaksanaan perkuliahan yang dirasa tidak efisien. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan para mahasiswa tidak bisa mengaplikasikan materi yang mereka dapat secara maksimal. Jika melihat pada survei yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hasil menunjukkan bahwa 90 persen responden yang notabennya adalah mahasiswa lebih memilih untuk melaksanakan kuliah tatap muka.

Salah satu masalah yang cukup riskan dalam hal ini adalah koneksi internet yang buruk dan tidak merata di semua tempat. Video conference yang menjadi salah satu wadah kadang malah menjadi boomerang, karena dinilai menghambat proses pembelajaran yang biasanya disebabkan adanya koneksi yang buruk di daerah masing-masing. Koneksi yang buruk bisa menyebabkan mispersepsi saat pemberian materi yang disampaikan dosen kepada mahasiswanya. Ungkapan bahwa ‘mahasiswa harus lebih mandiri, cekatan, dan harus cepat adaptif’ seakan menjadi tamparan keras untuk para mahasiswa untuk bekerja lebih keras lagi dari sebelumnya di tengah keresahan mereka terhadap pandemi dan metode pembelajaran ini.

Keresahan lain yang dirasakan adalah membengkaknya pemakaian kuota   yang harus dikeluarkan selama pembelajaran online. Menurut survei yang diadakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Wilayah III DKI Jakarta, dari 613 responden mahasiswa yang disurvei, 47 persen di antaranya menyatakan bahwa kuota internet menjadi kendala  untuk menjalani perkuliahan. Seperti yang diketahui, mungkin beberapa universitas telah bersedia memberikan subsidi kuota kepada mahasiswa-mahasiswanya selama pembelajaran jarak jauh. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang tidak mendapat sepeser pun bantuan dari universitasnya? Bengkaknya pengeluaran untuk membeli kuota internet di tengah pandemi akan dirasa sedikit sulit karena perekonomian di tengah pandemi pun tidak bisa dikatakan dalam keadaan yang baik.

Pertimbangan untuk pemberian kuota internet secara merata dan pemerataan infrastruktur oleh pemerintah, terkhusus untuk daerah yang masih minim jangkauan internet, merupakan salah satu dari banyaknya harapan yang dilayangkan oleh mahasiswa agar perkuliahan dapat berjalan dengan baik.

Secercah harapan

Terlepas dari banyaknya permasalahan yang dirasakan para partisipan, besar harapan bahwa pemerintah bisa memberikan solusi yang efisien. Selain itu, tindakan yang tepat juga diharap dapat dilakukan segera untuk mengurangi celah-celah kosong ini agar pendidikan di Indonesia bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kerja sama antara semua partisipan di dalamnya juga merupakan salah satu hal penting untuk menghadapi permasalahan di tengah pandemi ini.

Sebagai tambahan, kecepatan birokrasi dan pengambilan keputusan terhadap kelanjutan metode pembelajaran ini menjadi hal yang diharap dapat memberikan jalan keluar terbaik. Besar harapan agar dapat memberikan kenyamanan terhadap proses pembelajaran yang sedang dan akan berlaku di Indonesia di masa depan. Pendidikan hebat, bangsa bermartabat. (*)

Gudang Pakan Ayam Terbakar, Pemilik Rugi Hingga 400 Juta
Kapolres Blitar Beri Pengarahan Kepada Seluruh Bhabinkamtibmas Terkait Pelaksanaan 3T
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.