Gunawan Wibisono BPS Kabupaten Blitar

Oleh : Gunawan Wibisono

BPS Kabupaten Blitar

Pertengahan tahun 2020 ini, pemerintah berencana mendistribusikan elpiji melon secara tertutup, karena dinilai tidak tepat sasaran. Dalam sebuah harian surat kabar, Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswarno menuturkan,  hanya orang miskin yang mendapatkan elpiji 3 kilogram. Masyarakat katagori mampu tidak bisa lagi menggunakan elpiji model melon tersebut.

Menurut Djoko Siswarno, penyaluran secara langsung untuk masyarakat berhak tersebut akan menghemat anggaran 10 sd 15 persen. Setelah itu, harga elpiji 3 kilogram akan menyesuaikan dengan harga elpiji 12 kilogram yang non subsidi.

Lebih lanjut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian, Kemenko Maritim dan Investasi serta Kemenko PMK. Sebelum melaksanakan kebijakan tersebut, perlu kiranya ada sosialisasi dan penyadaran masyarakat yang baik, agar tidak menuai gejolak kontroversi, mengingat “gaduhnya” masyarakat kita bila ada bantuan yang bersifat tunai/langsung, apalagi ditengah tuntutan biaya hidup yang semakin tinggi.

Bila subsidi sudah dicabut, harga elpiji melon bisa meningkat lebih dari dua kali lipat. Tentu ini akan menambah beban pengeluaran rumahtangga. Khususnya untuk strata menengah, atau yang mendekati miskin. Mereka akan riskan “tergelincir” menanggung pengeluaran, karena besar pasak daripada tiangnya. Bila terus berlanjut, dikhawatirkan akan menambah jumlah rumahtangga yang terjebak di bawah garis kemiskinan.

Sejauh ini, penggunaan elpiji memang penting untuk rumahtangga. Dari data Statistik Kesejahteraan 2019, BPS Jawa Timur mencatat sebagian besar rumahtangga menggunakan bahan bakar memasak LPG 3 kilogram sebanyak 77,08 persen, di susul LPG 12 kilogram ada 1,54 persen, kemudian LPG 5,5 kilogram sebanyak 0,95 persen. Untuk bahan bakar kayu bakar, masih cukup banyak rumahtangga yang menggunakan, yakni sebesar 16,57 persen. Tapi terbatas hanya masyarakat pedesaan yang masih berlimpah, mudah dan murah mencarinya. Selebihnya, dalam persentase yang kecil, rumahtangga memakai gas kota, listrik, minyak tanah, arang, serta bahan bakar lainnya untuk memasak sehari-hari. Dari data tersebut, tak mengherankan bila elpiji favorit digunakan rumahtangga, khususnya untuk jenis model melon, baik di pedesaan maupun perkotaan.

Ketersediaan tabung LPG di dapur rumah kita menjadi sangat penting. Karena harganya yang murah dan terjangkau, kemasan isi 3 kilogram begitu populer. Walaupun berhiaskan tulisan “Hanya untuk masyarakat miskin”, tetap saja laris manis dan semua kalangan memakainya. Produk ini digunakan sebagian besar rumahtangga, menggantikan minyak tanah yang tidak dipakai lagi karena telah dicabut subsidinya.

Sesungguhnya, LPG (Liquid Petroleum Gas) merupakan jenis energi yang tidak dapat diperbaharui. Produk ini dalam senyawa kimia terdiri dari propana dan butana, diperoleh dari gas alam dalam penyulingan minyak bumi. Dengan teknologi fraksinasi tanur tinggi, fraksi gas ini dapat dipisahkan, dimurnikan, kemudian didinginkan dengan suhu rendah sehingga mencair. Setelah menjadi cairan, jadilah produk ini kita kenal sebagai LPG. Terdiri dari beberapa unsur karbon, mempunyai sifat yang mudah terbakar, dan digunakan sebagai salahsatu jenis bahan bakar. Indonesia tanah air kita, dikenal sebagai negara yang kaya minyak bumi dan hasil alam. Sampai perusahaan asing luar negeri pun betah puluhan tahun mendulang isi perut bumi nusantara tercinta. Tapi seharusnya semua pihak menyadari, bahwa cadangan energi fosil kita tidak akan bertambah, semakin lama akan menipis dan akhirnya habis. Kita harus bijak dalam menggunakan dan memanfaatkannya.

Secara perlahan dan bertahap, beralih menuju energi terbarukan menjadi tuntutan di era sekarang ini. Memenuhi kebutuhan bahan bakar memasak, biogas bisa menjadi salahsatu energi alternatif. Karena diperoleh secara organik, biogas menjadi energi yang dapat diperbaharui. Selain itu, gas metan yang dihasilkan hanya mengandung satu rantai karbon, sehingga sedikit menimbulkan polusi dalam pembakarannya. Potensi biogas untuk dikembangkan masih terbuka luas. Pada wilayah pedesaan misalnya, yang notabene masih kental dengan kegiatan pertanian dan peternakan, bisa menjadi wahana sentra produksi energi hijau ini. Adalah Desa Semen salahsatunya, yang berada di Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, menjadi satu diantara banyak wilayah yang mengembangkan biogas.

Menurut pengakuan  Andreas, salah seorang Kepala dusun di Desa Semen, menerapkan biogas ini sangat ekonomis. Masyarakatnya bisa berhemat belanja, tidak hanya gas, tapi juga listrik, karena biogas dapat digunakan untuk memasak dan penerangan lampu di malam hari. Andreas menggagas programnya dengan tajuk “Kampung Biru”. Berawal dari sebagian masyarakatnya memelihara ternak sapi perah, serta dukungan dari sebuah perusahaan susu, peternak bisa mendapatkan edukasi dan peralatan  mesin penghasil biogas. Menurutnya, setidaknya terdapat delapan titik dalam wilayah dusunnya yang sudah berproduksi. Tidak hanya rumahtangga pemilik alat saja yang menggunakan, tetapi tetangga sekitarnya bisa mendapatkan gas gratis, asalkan mau memasang instalasi penyalurannya sendiri.

Lebih lanjut dia menuturkan, dengan program Kampung Biru ini, bisa menurunkan sekitar 30-40 persen komplain masyarakat terkait limbah kotoran sapi, karena menimbulkan polusi yang mengganggu. Sebagaimana fenomena PT. Greenfield,  pabrik dengan produk susu kemasan di Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Perusahaan kerepotan dalam mengolah limbah kotoran sapi, polusi bau serta sungai yang tercemar di sekitarnya, sehingga mendatangkan komplain masyarakat. Sampai pemerintah daerah pun turun tangan mengatasi masalah tersebut. Sungguh patut disayangkan, ditengah geliat industri besar yang mulai bergerak, justru lingkungan alam yang menjadi korban.

Dalam mengelola energi terbarukan, paling tidak ada tiga hal yang diperhatikan dan dikembangkan, yakni teknologi, pemasaran produk dan regulasi pemerintah. Dengan teknologi, bisa menghasilkan biogas yang berkualitas, dikemas dengan baik, aman dan tidak membahayakan konsumen. Serta mempunyai standart produk yang jelas. Dengan meningkatkan teknologi, kluster penghasil energi semacam “Kampung Biru” akan semakin berkembang. Tidak hanya terbatas digunakan secara intern saja, bisa mempunyai nilai jual dan dinikmati oleh orang luar dan konsumen. Menggunakan teknologi yang maju dan mutakhir, hal tersebut akan mungkin untuk diwujudkan. Sehingga akan muncul produsen-produsen biogas baru dari level pedesaan, karena didukung kemudahan mendapatkan bahan organik. Sentuhan teknologi akan lebih terasa positif, mengubah citra peternakan yang mulanya terkesan kumuh dan bau menjadi bersih, rapi, serta mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berdaya saing.

Dalam hal pemasaran, produsen bisa mengenalkan dan mempromosikan barang, kompetitif dalam harga, dan layanan purna jual yang baik, sehingga tidak merugikan konsumen. Tak kalah penting adalah regulasi pemerintah, yang mengatur kegiatan industri biogas. Sikap dan komitmen pemerintah dalam memajukan energi terbarukan sangat penting untuk menstimulasi pertumbuhan. Tidak hanya terbatas pada skala besar, industri kecil dan rumahtangga pun bisa menjadi produsen, asal memenuhi syarat dan standart yang telah ditetapkan. Dengan fasilitas-fasilitas yang ada dan semakin berkembang, akan meningkatkan kualitas hidup. Memperluas lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja. Semakin menambah nilai kemanfaatan di masyarakat. Dan akhirnya, dengan asa dan pengharapan, semua elemen menyadari bahwa penting untuk menggerakkan energi terbarukan. (*)

Akibat Longsong, Akses Jalan Antar Desa di Dua Kecamatan Di Kabupaten Blitar Tertutup
Pencemaran Limbah Peternakan Tak Kunjung Selesai, PMII Demo Bawakan Kotoran Sapi Untuk Dewan
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.