Upaya mediasi juga sudah dilaksanakan yang dihadiri oleh pihak PPA Polres Blitar, Dinas terkait dan Muspika setempat

Blitar – Tugi Susanti (29), warga Batam, menggugat pasangan keluarga Umar ( 29) dan Sulistyowati ( 31), warga kelurahan Klemunan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.

Dalam gugatanya, Susanti selaku ibu kandung meminta kembali anaknya yang telah diadopsi oleh keluarga Umar pada bulan Agustus 2019 lalu. Namun sampai saat ini proses adopsi belum dilakukan secara resmi, hanya berdasarkan surat kesepakatan antara Susanti dengan keluarga Umar yang ditanda tangani diatas materai.

“Awalnya kami dengan Bu Sulisyowati berkenalan melalui grup jejaring Facebook Kagadopsi, Komunitas Keluarga dan Anak Adopsi Indonesia.” kata Susanti.

Lebih lanjut Susanti menceritakan bahwa saat itu dirinya sedang hamil 7 bulan dan ada permasalahan keluarga dengan suami sirinya, Lim Ching Kang (46), warga negara Singapura.

“Suami saya saat itu masih di Singapura, dan saya tinggal di Batam. Saya juga tidak memberitahukan hal ini kepada suami saya.” jelas Susanti.

Susanti menambahkan, saat itu dirinya ditawarkan oleh Sulistyowati biaya tiket, akomodasi serta semua biaya proses kelahiran anak di Blitar asalkan anaknya boleh diadopsi. Tanpa fikir panjang dirinya setuju dan berangkat ke Blitar hingga melahirkan bayi perempuan.

Setelah si bayi berumur 1 bulan, suaminya mengetahui hal tersebut dan tidak setuju. Selanjutnya datang ke Blitar menemui keluarga Sulistyowati dan berusaha meminta kembali bayinya dengan baik-baik.

“Suami saya datang ke Blitar ingin meminta anak kami secara baik-baik, yaitu dengan mengembalikan biaya uang yang telah dikeluarkan oleh keluarga Sulistyowati selama saya tinggal dan untuk proses melahirkan dengan harapan bisa kembali merawat anak kami”, papar Susanti.

Namun, harapan Susanti dan suaminya untuk mendapatkan bayinya kembali tak berjalan mulus. Keluarga Umar meminta pengembalian biaya yang telah dipakai Susanti dan bayinya selama mereka rawat satu bulan sebesar 30 juta rupiah.

“Waktu itu kami hanya diberikan waktu selama 3 hari untuk mengembalikan uang sebesar 30 juta. Kalau kami tidak bisa mengembalikan uang, bayi akan diserahkan ke Dinas Sosial”. ungkap Susanti.

Menurut Susanti, waktu itu dia dan suaminya bingung, dari mana bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat. Padahal upaya mediasi juga sudah dilaksanakan yang dihadiri oleh pihak PPA Polres Blitar dan Muspika setempat, akan tetapi juga tidak membuahkan hasil.

“Mediasi yang disaksikan aparat setempat juga tidak berhasil, bahkan pihak keluaga Umar mengatakan tidak akan menyerahkan bayinya, karena sudah terlanjur sayang”, jelas Susanti.

Karena upaya kekeluargaan dan mediasi tak berhasil, Susanti dan suaminya melalui kuasa hukumnya melakukan gugatan di Pengadilan Negeri Blitar.

“Saat ini saya dan suami melalui kuasa hukum telah melakukan gugatan di Pengadilan Negeri Blitar. Sebagai orang tua kandung, kami berharap bisa meminta dan merawat anak kami kembali”, tandasnya.

Sementara itu, keluarga Umar melalui Hendi Priono, SH selaku kuasa hukum menjelaskan, bahwa permintaan klienya sebesar 30 juta itu adalah biaya yang dipakai oleh ibu dan biaya bayi selama ini.

“Klien kami niatnya baik, biaya 30 juta itu adalah uang yang sudah dipakai ibu dan bayinya selama ini. Jadi tidak ada niatan untuk mengambil untung dalam hal ini. Mari ikuti proses persidangan ini, biar pengadilan yang menentukan”, tegas Hendi. (bang/jar)

Tim Gabungan Razia Cafe dan Karaoke Di Blitar
Penyandang Disabilitas Dapat Bantuan Kaki Palsu Dari Polres Blitar
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.