BERITABLITAR.COM – Akibat kemarau panjang, warga Desa Tugurejo Kecamatan Wates Kabupaten Blitar, terpaksa memanfaatkan air sumber yang sudah kotor dan berbau untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dirasakan sekitar 50 kepala keluarga sejak memasuki musim kemarau.

Sunari, warga setempat mengaku, di daerah mereka memang terdapat enam sumber air. Namun pada musim kemarau seperti saat ini,  keenam sumber tersebut debit airnya berkurang. Ditambah banyak warga yang mengambil air sumber membuat air semakin keruh dan berbau.

“Sumur sudah tidak mengeluarkan air sama sekali. Terpaksa buat mencuci dan memasak ambil air dari sumber. Tapi ya kondisinya seperti itu. Keruh dan berbau,” kata Sunari, Selasa (30/7/2019).

Lebih lanjut Sunari mengeluhkan, kondisi ini diperparah dengan jarak pemukiman warga dan sumber air terdekat yang mencapai dua kilometer. Sementara untuk membeli air bersih, warga yang sebagian besar petani penggarap ini mengaku tidak mampu.

“Harga air bersih satu tandon saat ini dijual seharga Rp 80 ribu. Dengan kapasitas air 250 liter, stok itu hanya cukup memenuhi kebutuhan air bersih bagi satu kepala keluarga selama satu bulan,” ujarnya.

Sunari menambahkan, jika mengambil dari sumber tidak beli. Meskipun bau warga setempat tetap mengambil air dari sumber.

“Kalau dimasak baunya akan hilang. Kami berharap pemerintah segera menyalurkan droping air bersih ke desa ini,” jelas Sunari.

Sunari bersama puluhan kepala keluarga lainnya mengaku, sejauh ini mereka belum pernah tersentuh bantuan droping air bersih dari pemerintah. (Fajar AT)

Pembangunan Kantor Kelurahan Karangtengah Dimulai, Plt Wali Kota Blitar Letakan Batu Pertama
Dinas Peternakan Kabupaten Blitar Periksa Kelayakan Hewan Kurban
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.