Polisi menetapkan Wisang Romadhon alias Rama sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana memudahkan perbuatan cabul

BERITABLITAR.COM – Wisang Romadhon alias Rama, ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana memudahkan perbuatan cabul. Polisi menetapkan warga Jatikunir Kelurahan Bajang Kecamatan Talun Kabupaten Blitar ini, lantaran menyewakan kamar di dalam sebuah rumah yang dikontraknya di lingkungan Keningaran Kecamatan Talun sebagai tempat mesum.

Kapolres Blitar, AKBP Anissullah M Ridha mengatakan, tersangka Wisang (WS) mengontrak rumah tersebut dari Lukito (pemilik aslinya). Wisang mengontrak rumah dengan menggunakan identitas orang lain bernama Endang warga Selopuro.

“Dari hasil pemeriksaan tersangka WS mengaku sengaja memalsukan identitas untuk memuluskan aksinya meyewakan kamar agar tidak diketahui RT setempat,” kata Anissullah M Ridha, Selasa (23/7/2019).

Lebih lanjut Anissullah menyampaikan, rumah yang dikontrak Wisang kemudian dirubah dengan memberi sekatan-sekatan menggunakan triplek menjadi empat kamar. “Kamar-kamar ini kemudian disewakan untuk berbuat asusila dengan tarif sewa beragam. Tarifnya antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per tiga jam. Khusus Sabtu dan Minggu tarif masing-masing kamar naik Rp 10.000,” tandasnya. 

Kapolres Blitar menambahkan, praktek tak terpuji ini terbongkar setelah warga sekitar merasa curiga dengan banyaknya muda-mudi keluar masuk rumah. Warga kemudian melaporkan ke Polsek Talun.

“Setelah dicek polisi dan warga mendapati toga pasangan sedang memadu kasih. Bahkan ada yang baru saja selesai melakukan hubungan badan. Polisi juga menemukan kondom bekas pakai dan tisu berserakan di dalam dan sekitar pekarangan rumah,” ujarnya.

Polisi hingga kini masih memasang garis polisi di rumah kosong yang disewakan untuk tempat mesum di Kelurahan Bajang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Kondisi rumah ini sebenarnya seperti sebuah rumah yang sudah lama tidak ditinggali, sehingga terkesan kumuh dan kotor.

“Di bagian depan rumah juga banyak rumput yang dibiarkan tumbuh lengkap dengan daun kering dan sampah berserakan dimana-mana. Namun ketika masuk ke dalam rumah petugas kepolisian yang datang ke lokasi menemukan berbagai kejanggalan. Salah satunya adalah kondisi di dalam rumah terdapat banyak ruangan yang disekat dengan triplek,” paparnya.

Anissullah menambahkan, diantara sekatan triplek itu terdapat sebuah tulisan di atas kertas berlaminating. Tulisan itu merupakan tarif kamar yang disewakan. Tarifnya antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per tiga jam. Khusus Sabtu dan Minggu tarif masing-masing kamar naik Rp 10.000. 

“Seperti kamar hotel, harga sewa kos tersebut dibedakan berdasarkan fasilitas di dalamnya. Untuk yang tanpa kipas angin, tarifnya Rp 20.000 per tiga jam. Sedangkan kamar yang fasilitannya terbaik disewakan Rp 50.000 sampai Rp 60.000 karena selain ada kipas anginnya juga kamar mandi dalam,” jelas Anissullah.

Tak hanya itu, yang lebih mencengangkan petugas kepolisian juga menemukan puluhan kondom bekas pakai berserakan di dalam maupun luar rumah. Tumpukan tisu bekas pakai dan botol bekas air minum.

“Di lokasi kami juga menemukan kondom bekas pakai. Saat ini semua sudah kami amankan,” pungkas Kapolres Blitar.

Sebelumnya polisi mendatangi sebuah rumah di Kelurahan Bajang, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Polisi datang bersama warga yang curiga di rumah itu sering keluar masuk muda-mudi meski kondisinya kosong. Setelah di cek petugas kepolisian dan warga menemukan tiga pasangan pelajar yang masih di bawah umur. Diantara mereka, bahkan ada yang sudah sempat melakukan hubungan badan sebanyak satu kali. (Fajar AT)

Sembilan Anggota Bapparda Kabupaten Blitar Dilantik
Bupati Blitar : Adanya Paket Wisata Pelajar, Diharapkan Wisata Di Kabupaten Blitar Menggeliat
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.