Plt Walikota Blitar membuka bedah buku karya Luxman Pendit di Amphiteater Perpusnas Bung Karno.

BERITABLITAR.COM – Plt Walikota Blitar membuka bedah buku karya Luxman Pendit berjudul pustaka dan kebangsaan digelar di Amphiteater Perpusnas Bung Karno, Selasa (16/07/2019). Kegiatan bedah buku ini dihadiri sejumlah dosen, diantaranya dosen pasca sarjana UGM, Ika Fajar Priyanto, dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sri Rohyanti Zulaikha, serta Kepala Perpustakaan IAIN Salatiga, Wiji Suwarno.

Plt Walikota Blitar, Santoso dalam sambutannya mengatakan, acara bedah buku karya Putu Laxman Pendit berjudul pustaka dan kebangsaan ini sangat positif. Dalam kesempatan tersebut Santoso juga memberikan apresiasi yang tinggi atas terbitnya buku ini. Karena buku itu mengulas tentang kebangsaan atau nasionalisme.

“Jika kita berbicara tentang pustaka, di buku ini menggali terlebih tentang makna pustaka, bangsa, dan negara. Ketiganya ini dicoba untuk saling dikaitkan,” kata Santoso, Selasa (16/7/2019).

Lebih lanjut Santoso menuturkan, selama ini perpustakaan sering disebut sebagai penggerak kegiatan membaca atau yang secara umum disebut gerakan litetasi. Bahkan sering menggunakan semboyan “Membaca Mencerdaskan Bangsa”. Selain itu, juga sering digunakan kata nasional (kebangsaan) pada nama institusi tinggi bidang perpustakaan, yaitu Perpustakaan Nasional RI.

“Buku ini mencoba memberikan gambaran bagaimanakah sesungguhnya pustaka dan perpustakaan memberikan sumbanhan kepada bangsa dan kebangsaan,” tandas Santoso.

Santoso menuturkan, bedah buku ini tepat diselenggarakan di Kota Blitar. Selain karena Bung Karno yang makamnya secara faktual berada di Kota Blitar, tetapi sang Proklamator dan penggali pancasila memiliki kenangan dan sejarah hidup di Kota Blitar.

Menurut Santoso, bedah buku yang mengangkat topik tentang pemikiran Putu Laxman ini, jika dipahami dengan baik maka akan kembali membuka cakrawala untuk lebih memahami munculnya pemikiran-pemikiran mulai dari zaman penjajahan sampai modern, khususnya dalam hal pustaka dan kebangsaan.

“Kita pahami betul kalau Putu Laxman Pendit adalah seorang penulis, peneliti, pendidik, dan pengajar bidang ilmu perpustakaan serta informasi. Bahkan kiprahnya sangat dikenal dikalangan para pustakawan Indonesia yabg haus dengan isu dan hal-hal fundamental tentang kepustkawanan,” ujarnya.

Santoso menambahkan, menurut Laxman, perpustakaan bukan hanya aebagai sarana dalam sumber informasi, melainkan juga sebagai sarana dalam pemberdayaan masyarakat. Seperti yang telah diketahui, salah satu sifat dari perpustakaan adalah universal. Sehingga seolah perpustakaan menjadi sosok pahlawan ditengah masyarakat.

“Karena masyarakatlah perpustakaan tetap hidup. Saya percaya bedah buku inialan memberikan pencerahan bagi upaya menggerakkan dunia litetasi. Medianya bisa beragam, tetapi saya yakin tujuannya sama, yaitu mengajak generasi bangsa menyelami pemikiran pustaka, kebangsaan, dan nasionalisme,” imbuhnya.

Santoso berharap melalui kegiatan ini generasi bangsa dapat dengan lebih mudah memahami perjalanan perpustakaan, pustaka, buku, dan kebangsaan disetiap zaman. (Fajar AT/hms)

Ketahuan Miliki WIL, Seorang Suami Aniaya Istri Hingga Babak Belur
Duplikat Prasasti Pendelegan di Pikatan Kecamatan Wonodadi Diresmikan Bupati Blitar
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.