Oleh Widya Prana Rini

BERITABLITAR.COM – Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut memanifestasi bulan bahasa bersemarak dan dirayakan. Jika menengok ke belakang, terbentuknya bangsa Indonesia tidak terlepas dari peristiwa Sumpah Pemuda. Konggres tersebut disepakati bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat pemersatu. Dengan melihat bahwa Indonesia terdiri dari banyak pulau, didiami oleh banyak suku, dan juga banyak bahasa, maka dibutuhkan sebuah alat pemersatu untuk saling berkomunikasi agar terwujud, terjalin, dan terbentuk suatu bangsa.

Dengan menilik sejarah, maka bulan bahasa digunakan sebagai momen yang tepat untuk mengingat pentingnya berliterasi. Mengapa literasi menjadi gerakan yang penting? Literasi dapat meningkatkan pemahaman, menganalisis, berpikir kritis, sekaligus mendekonstruksi wacana yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terpenuhinya literasi memungkinkan untuk mengakses sains, pengetahuan, dan juga teknologi. Gerakan literasi juga dapat menjadi wahana spiritual, ruang untuk mengolah rasa dan imajinasi. Persoalan yang muncul, meskipun literasi sangat penting, namun faktanya masyarakat Indonesia (bahkan mahasiswa) sangat minim menyadari dan melestarikan hal tersebut. Faktor utama yaitu minat baca yang terbilang masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Dengan meneropong dan memperhatikan negara-negara maju tidak terlepas dari kegiatan literasi yang maju.

Ada beberapa faktor yang membuat budaya literasi lemah, seperti akses terhadap buku, lebih menyukai hiburan yang kurang berfaedah dan kurangnya budaya aplikasi literasi. Faktor kurangnya kesadaran membaca mengakibatkan orang-orang dengan mudahnya menyebarkan info/berita tanpa melihat jauh kebenaranya, sehingga ikut menyebarkan berita hoax, kurang kritis, dan membudaya plagiasi. Persoalan tersebut membutuhkan solusi. Selain akses terhadap buku bahan bacaaan, ragam literasi yang lain harus disuburkan, salah satunya diterapkan dalam sebuah praktik kehidupan. Literasi dalam praktik bertujuan agar dapat memancing dan membudayanya gerakan literasi di Indonesia. Melalui sebuah agenda gebyar bulan bahasa yang bersemarak di sekolah, di perguruan tinggi, dan  masyarakat di berbagai daerah.

Membangkitkan Kesadaran dan Gairah Literasi

Dalam membangkitkan kesadaraan dan gairah berliterasi dengan menyemarakan agenda bulan bahasa yang jatuh di bulan Oktober tidak menutup kemungkinan akan memunculkan kearifan lokal, hal ini termasuk dalam aspek budaya. Selain itu, muatan yang bersumber dari teks-teks Bahasa Indonesia juga dapat diapresiasikan. Kegiatan tersebut salah satunya dilakukan oleh program studi Pendidikan Bahasa Indonesia (Prodi PBI), Universitas Nahdlatul Ulama Blitar (UNU Blitar). Sebuah acara pada tanggal 14 Oktober 2018 dengan tema “Generasi Muda Bangsa Bangga Berbahasa, Bersastra, Dan Berbudaya Indonesia”. Pada acara tersebut diselenggarakan berbagai lomba seperti lomba cipta, baca puisi, orasi, dan stand up comedy.

Beberapa lomba yang diagendakan menciptakan spirit dan menumbukan akan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Misalnya di UNU Blitar, perlombaan tersebut tidak hanya dikhususkan untuk prodi yang berlabel bahasa, seperti prodi Bahasa Indonesia dan Inggris, tetapi merambah ke prodi lain seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, Ilmu Kompuer, Matematika, Fisika, Pend. Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Olah Raga (ditujukan seluruh prodi yang ada di UNU Blitar). Tidak hanya perlombaan saja agar dapat membangkitkan gairah literasi, yaitu adanya orasi bahasa Indonesia, pementasan drama, teatrikal yang bersumber dari puisi dan stand up comedy yang mengambil wacana sosial.

Terkait dengan litersi, bulan bahasa juga merambah pada jalinan kerjasama dan kerja keras dalam suatu kelompok agar terselenggara dengan baik juga maksimal, seperti yang dilakukan oleh tim himpunan mahasiswa progarm studi (hima prodi).

Harapannya dalam acara tersebut, literasi tidak hanya sebagai gerakan membaca dan menulis saja, tetapi lebih dengan melakukan atau mengaplikasikan, sehingga berliterasi akan memungkinkan untuk maju dan membudaya. Berliterasi dapat mempersempit tumbuhnya berita hoax, berliterasi akan mengakses dan memperoleh pengetahuan sains, teknologi, budaya, organisasi.

Dwi Angga selaku ketua Program Studi (Kaprodi) menuturkan dalam sebuah sambutan “Jangan pernah malu untuk mengeksplor berbahasa, bersastra, dan berbudaya.”

Selain Kaprodi, Rektor UNU Blitar Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M. Pd. mengungkapkan “Kami merasa bangga dan bersyukur kepada prodi PBI yang telah menyelenggarakan kegiatan gebyar bulan bahasa. Dengan mengambil semangat terbentuknya bahasa pemersatu Bahasa Indonesia dapat dikaitkan dan digunakan sebagai awal kebangkitan UNU Blitar sebagai pemersatu budaya Indonesia.” (*)

Orang Tua Korban Lion Air JT 610 Ingin Anaknya Dimakamkan di Blitar   
GTT  Gelar Aksi "Tutup Mulut" di Depan Kantor Pemkab Blitar  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.