Bripka Paramadenis L, ketika melakukan olah TKP perampokan di wilayah Polres Blitar Kota bersama penyidik reskrim.

BERITABLITAR.COM – Tidak banyak polisi yang setia hingga belasan tahun berada di satu unit. Apalagi sebagai anggota Tim Indonesia Automatic Fingerprint and Identification System (INAFIS) atau Unit Identifikasi. Tugasnya, membantu penyidik untuk olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengetahui identitas pelaku kriminal atau non criminal yang rata-rata sudah tidak bernyawa.

Pria ramah tampak sedang duduk serius di depan computer di ruangan Unit Identifikasi Polres Blitar Kota. Ruangan yang berada di bagian selatan Komplek Mapolres Blitar Kota itu berisi berbagai macam kotak, yang berisi berbagai peralatan kepolisian untuk identifikasi dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dialah Bripka Peramadenis L, salah satu dari empat anggota Unit Identifikasi atau Tim Inafis Polres Blitar Kota.

“Kebetulan saya sedang kebagian jatah piket. Ya, sendiri-sendiri setiap shift-nya. Karena harus tetap siaga selama 24 jam, dan siap saat dibutuhkan ketika ada kasus yang membutuhkan tenaga tim Inafis,” jelas Denis-sapaan akrab Bripka Peramadenis L, saat ditemui beritablitar.com.

Polisi kelahiran 1984 ini menuturkan, bahwa hampir 12 tahun bergabung dengan Tim Inafis Polres Blitar Kota. Di unit inilah dirinya menemukan keasyikan sebagai polisi, apalagi saat mampu memecahkan sebuah kasus pelik, seperti tindak criminal pencurian atau pembunuhan.

“Ya, saya tidak merasa bosan meskipun sudah belasan tahun di unit ini. Karena merasa tertantang untuk memecah misteri, apalagi bisa menemukan sidik jari pelaku,” jelas bapak satu anak ini.

Namun terkadang menemui kesulitan, terutama saat ada peristiwa atau keajadian dan harus berurusan dengan mayat. Apalagi, mayat tersebut sudah dalam kondisi membusuk, sehingga sidik jarinya sudah tidak bisa dikenali, dan membuat sebuah peristiwa bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan terungkap.

“Kadang menemui kesulitan saat bekerja berhadapan dengan kasus yang melibatkan mayat. Dan kondisi mayatnya sudah tidak bisa dikenali dan sudah dipenuhi belatung,” aku polisi ramah ini.

Inilah yang membuat tidak banyak polisi yang siap untuk menjadi anggota tim identifikasi. Sebenarnya banyak polisi yang mau dan ingin untuk menjadi anggota Tim Inafis ini. Tapi saat berhadapan dengan jasad orang mati, apalagi yang sudah berbau dan mengeluarkan belatung, ada yang muntah dan tidak kuat.

“Ya, banyak yang mau, tapi tidak siap saat harus memeriksa tubuh atau jasad mayat yang sudah berbau. Padahal sederhana saja tipsnya, baunya jangan dihindari tapi bernafas seperti biasa. Kalau tahan nafas, itu yang membuat kadang muntah,” beber polisi penyuka teknologi ini.

Selama belasan tahun menjadi anggota Unit Identifikasi, sudah tidak terhitung kasus yang harus dipecahkan. Dan tidak terhitung lagi harus berurusan dengan mayat, mulai yang menjadi korban pembunuhan hingga bunuh diri. Namun, karena semangat dan tertantang untuk bekerja lebih baik.

“Kalau pas makan atau tidur saya tidak pernah terbayang kondisi mayat yang sudah pernah saya cek. Tapi pas mandi kadang merinding sendiri, namun cuma sekedar terbayang tidak sampai trauma,” jelasnya tersenyum. (*)   

Masyarakat Dilarang Bangun Polisi Tidur, Polisi Tidur Wewenang Pemerintah  
Tanpa Surat Salinan, PH dr Soepriyo Tetap Ajukan PK  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.