Peternakan Babi di dusun Sendung Desa Tembalang Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar disegel Tim Satgas Pangan Polres Blitar, karena mencemari lingkungan

BERITABLITAR.COM – Tim Satgas Pangan Polres Blitar menyegel peternakan Babi di dusun Sendung Desa Tembalang Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Pasalnya peternakan milik pengusaha dari Malang seluas sekitar 700 meter persegi tersebut sudah puluhan tahun dikeluhkan warga karena mencemari lingkungan.

Pengelola peternakan 1126 ekor Babi tersebut membuang limbah peternakan langsung ke Sungai tanpa diproses terlebih dahulu, sehingga mencemari air sungai. Bahkan peternakan Babi di Desa Tembalang ini diketahui juga tidak mengantongi ijin alias illegal. Petugas mendapatkan jika ijin usaha peternakan tersebut mulai 2004 hingga 2009 dan tidak diperpanjang lagi hingg kini.

Dalam Inspeksi Mendadak (Sidak), Selasa (23/01/2018) di lokasi peternakan babi di dusun Sendung Desa Tembalang, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar ini, tim Saber Pangan Polres Blitar menemukan pelanggaran pengelolaan peternakan Babi. Diantaranya pihak pengelola membuang limbah ternak ke Sungai Tiko tanpa diproses terlebih dahulu, hingga mencemari lingkungan.

“Informasi dari masyarakat, Sargas Pangan Polres Blitar menemukan peternakan Babi yang membuang limbahnya langsung ke sungai tanpa diolah, yang diduga melanggar Undang-undang Lingkungan Hidup”, kata Kapolres Blitar, AKBP Slamet Waloya kepada beritablitar.com.

Slamet Waloya menambahkan, bahwa pihaknya menemukan jika peternakan Babi tersebut tidak memiliki perijinan yang dipersyaratkan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Untuk sementara waktum, penyidik Satgas Pangan Polres Blitar menutup peternakan tersebut dengan memasang garis polisi. Dan selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan terhadap pemilik peternakan”, jelas Slamet Waloya.

Lebih lanjut Slamet Waloya menyampaikan, apabila dalam penyelidikan ditemukan pelanggaran, baik pelanggaran administrasi maupun pidana, pihaknya akan memproses sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jika terbukti melanggar, akan kami proses, dan pemilik peternakan terancam pasal 109 UU RI Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana minimal 1 tahun dan mksimal 3 tahun”, pungkasnya.

Sementara Susmiati (64), warga sekitar peternakan mengaku telah lama mengeluhkan keberadaan peternakan Babi tersebut. Dia juga mengkhawatirkan dampak pencemaran tersebut terhadap lingkungan serta kesehatan terutama bagi balita.

“Pencemaran ini sangat berdampak bagi balita, Bahkan sangat mengganggu bagi pertumbuhan dan kesehatan balita”, keluh Susmiati.

Hal senada diungkapkan Yuliasih (40), warga lain yang rumahnya mepet dengan kandang Babi. Dia mengaku, jika warga sekitar kandang sudah puluhan tahun melakukan protes, karena pencemaran lingkungan dan limbah kandang yang dibuang ke sungai. Namun hingga saat ini tidak ada tanggapan.

“Akibat pencemaran tersebut, udara di sini menjadi baud dan banyak ulat. Sebenarnya sudah puluhan tahun warga protes kepada pemilik kandang, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan”, ungkapnya. (*)

Antisipasi Penimbunan, Satgas Pangan Sidak Gudang Beras  
Kantor Kelurahan Pakunden, Diremmikan Walikota Blitar  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.