OTODIDAK: A.W. Widodo berdiri di tengah aneka kerajinan tangan dari paralon yang kini sedang banyak diminati, hingga mendapat pesanan dari kafe-kafe.

BERITABLITAR.COM, Sukorejo – Berawal hanya dari coba-coba, siapa sangka kini paralon bekas bisa disulap oleh A.W. Widodo menjadi kerajinan tangan berharga jutaan rupiah. Kini rumah tempat tinggalnya di Perumahan Bengawan Solo Regency, Blok G, No 2, ikut diubah menjadi bengkel sekaligus galeri produksi puluhan jenis dan model kerajinan dari paralon ini.

Seorang pria tampak sibuk menata puluhan asbak mini berbentuk mobil-mobilan di depan rumahnya di Perumahan Bengawan Solo Regency, di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo kemarin. Melihat beritablitar.com datang, pria ramah ini langsung meminta tamu untuk masuk ke ruang tamu. Ruangan kurang lebih 4×5 meter itu juga ternyata dipenuhi oleh ratusan kerajinan dari paralon, yang sudah diukir dan diwarnai bermacam warna sehingga terlihat sangat menarik. Dialah A.W. Widodo perajin yang menyulap berbagai paralon bekas menjadi aneka barang berharga itu.

Pria kelahiran 1974 ini menuturkan, bahwa dirinya telah menggeluti pembuatan aneka model kerajinan yang semua bahan bakunya dari paralon sejak satu setengah tahun yang lalu. Dimana, saat dirinya menjadi pemborong proyek perumahan mendapati paralon berbagai ukuran tergeletak dan menjadi sampah.

“Saat itu, paralon-paralon bekas tersebut saya bawa pulang. Saat itu, saya juga belum paham mau dibuat apa. Yang penting saya bawa pulang dulu, biar pas ada waktu luang akan saya buat sesuatu, pikir saya waktu itu,” tutur pria yang mengaku tidak memiliki latar belakang seniman itu.

Kemudian setelah beberapa hari tergeletak di depan rumah, lanjut pria yang akrab disapa Willy ini, salah satu tetangga kemudian memintanya untuk mencoba membuat kerajinan tangan dari paralon. Bahkan tetangganya inilah yang memberikan ide bentuk dan cara membuat lampu hias berbentuk bola.

“Salah satu tetangga saya malah yang minta saya membuat dan mengajarkan saya bagaimana bentuk dan modelnya. Akhirnya saya mulai mencoba dan ternyata hasilnya bagus. Beberapa tetangga yang melihat akhirnya tertarik dan meminta dibuatkan,” beber pria yang mengaku membuat kerajinana paralon secara otodidak ini.

Setelah itu, dia kemudian mencari berbagai model barang kerajinan yang bisa dibentuk dari paralon. Setelah itu, mulai mencoba beberapa peralatan bor yang kemudian dimofikasi sendiri sehingga hasilnya lebih baik. Setelah kurang lebih dua bulan terus mencoba, akhirnya hasil signifikan menghampirinya.

“Beberapa model lampu hias saya buat, lalu coba saya tawarkan lewat online. Dan ternyata tanggapan sangat positif. Bahkan beberapa orang broker langsung bersedia untuk kerjasama dan menjual kerajinan tangan punya saya,” akunya.

Setelah itu, dirinya terus membuat inovasi baru untuk lampu hias mulai ukiran dan warnanya. Bukan hanya lampu hias, tapi mulai ke jenis lain seperti vas bunga, tempat lilin, tempat botol, gelang, mainan mobil-mobilan dan kapal finishi, hingga mebeler dan berbagai barang lain.

“Hingga saat ini ada 63 jenis barang yang bisa saya buat dari paralon. Dan pesanan juga mulai lancar. Untuk beberapa galeri seni di Bali, Yogjakarta, Malang, Bandung, bahkan pesanan dari Brunai Darussalam dan Singapura juga ada,” jelasnya, seraya mengakui bahwa saat ini omsetnya bisa mencapai Rp 25 per bulan.

Willy mengaku, tidak pernah mengira sambuatan pasar akan seperti saat ini. Setelah dicek, ternyata kerajinan tangan dari paralon itu untuk di Jawa Timur saja hanya ada tiga, yakni di Mojokerto, Banyuwangi dan di Blitar. Namun, karya miliknya dijamin berbeda dengan yang lain, terutama untuk ukirannya.

“Saat ini saya mencoba melakukan membuat motiv alami seperti kayu, dengan cara mebakar bagian permukaan paralon dengan suhu panas tertentu, dan hasilnya juga sangat diminati,” tegasnya.

Untuk kerajinan paralon miliknya dijamin harganya lebih rendah, namun kualitas hampir sama dengan berbagai peralatan rumah tangga. Untuk karya buatannya, dihargai dari Rp 5 ribu untuk aneka model gelang dari paralon hingga paling mahal adalah satu set mebeler meja kursi yang harganya mencapai jutaan rupiah.

“Untuk harga, ya tergantung kerumitan dan banyaknya bahan baku yang dibutuhkan. Karena saat ini saya masih kerja sendiri, sehingga membutuhkan tenaga terampil untuk ikut membantu. Ke depannya, saya ingin memberdayakan pemuda di sekitar rumah,” bebernya, seraya menunjukkan vas bunga dan lampu hias yang paling diminati konsumen, dan setiap bulan dirinya bisa memproduksi hingga ratusan barang dari paralon. (*)

PKL Alun-Alun Kota Blitar Segera Dipindahkan, Taman Jas Merah Bakal Dibangun,  
Razia Pelajar Bolos, Satpol PP Temukan Gambar Porno di Ponsel Pelajar  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.