BERITA BLITAR – Perpustakaan Proklamator Bung Karno memang didesain untuk melengkapi fasilitas di Makam Bung Karno. Jika ibaratnya pusara sebagai perabuan, maka perpustakaan menjadi api yang terus menyalakan semangat dan pemikiran-pemikiran Bung Karno.

Alfons Nuba (51), berkali-kali mengucap kagum saat berkunjung di Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Rabu (16/8). Pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur, ini sangat terkesan dengan koleksi buku dan benda peninggalan Presiden pertama RI yang disimpan di perpustakaan.

Terutama dengan koper milik Bung Karno. Koper itu selalu menemani Bung Karno saat keluar masuk penjara maupun di tempat pengasingan. Saat melihat koper itu, Alfons langsung teringat tempat pengasingan Bung Karno di Ende. Dia sudah berkali-kali mampir di tempat pengasingan Bung Karno di Ende.

“Perpustakaan ini luar biasa, koleksi tentang Bung Karno komplet. Tidak hanya buku, tapi juga benda dan foto-foto peninggalan Bung Karno,” kata Alfons yang datang ke PerpustakaanProklamator Bung Karno bersama istri.

Alfons baru kali pertama berkunjung ke Makam Bung Karno, di Kota Blitar, itu. Sebenarnya, dia sudah lama ingin berkunjung ke Makam Bung Karno, tapi baru terlaksana kali ini. Dia memang pengagum Bung Karno. Sejak SMA, dia sudah sering membaca buku-buku karya Bung Karno maupun tentang Bung Karno.

“Saat masuk gerbang menuju Makam Bung Karno saya sudah merinding. Tidak tahu kenapa, karena saya memang sudah lama ini ke sini untuk ziarah sekaligus ke perpustakaan,” ujarnya.

Perpustakan Proklamator Bung Karno memang untuk melengkapi fasilitas di Makam Bung Karno. Perpustakaan itu berada satu kompleks dengan Makam Bung Karno. Perpustakaan itu mulai dibuka pada 3 Juli 2004. Sampai sekarang perpustakaan itu memiliki koleksi 68.000 judul buku dengan 171.000 eksemplar.

Bangunan perpustakaan terdiri dua lantai. Ada dua bangunan yang dipisahkan lorong. Bangunan sisi barat bagian bawah sebagai tempat menyimpan koleksi memorabilia atau biasa disebut museum Bung Karno. Ruang itu menyimpan koleksi Bung Karno non buku. Seperti lukisan, perangko,mata uang Bung Karno, termasuk jas dan koper milik Bung Karno. Jumlah koleksi di ruang memorabilia sekitar 2.200 barang.

Sedangkan di lantai dua bangunan sisi barat sebagai tempat menyimpan koleksi buku khusus Bung Karno dan koleksi langka. Sejumlah buku yang ditulis Bung Karno disimpan di ruang itu. Termasuk teks pidato Bung Karno juga di simpan di ruang tersebut. Jumlah koleksi khusus dan langka itu sebanyak 4.500 buku. Di ruang ini pengunjung tidak boleh memotret.

“Yang menjadi keunikan di perpustakaan ini menyimpan lengkap teks pidato Bung Karno. Biasanya menjelang HUT Kemerdekaan RI, Istana meminta dikirimi teks pidato Bung Karno. Tapi kali ini tidak ada pesanan,” kata Kepala Bidang Layanan Informasi dan Kerjasama UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Hartono.

Untuk gedung sisi timur bagian bawah sebagai tempat menyimpan majalah, refrensi, serial, dan koleksi digital. Selain itu, di ruang itu juga sebagai tempat mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Untuk sementar, member perpustakaan hanya khusus bagi warga Kota dan Kabupaten Blitar. Perpustakaan itu disediakan gratis untuk masyarakat.

Gedung sisi timur di lantai dua sebagai tempat menyimpang karya umum, mulai filsafat, psikologi, agama, politik, dan biografi. Jumlah koleksinya ada 34.000 judul buku dengan 126.000 eksemplar. Di ruang itu juga dilengkapi ruang untuk memutar film semacam bioskop berkapasitas 100 orang. Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan seperti sekarang ini, pengelola memutar film tentang Bung Karno di ruang tersebut.

Di sebelah barat gedung perpustakaan, juga terdapat amphitheater berkapasitas 700 orang. Ruang terbuka itu sebagai tempat pertunjukkan maupun membaca pidato. “Sehari, rata-rata jumlah pengunjung di Perpustakaan sekitar 2.400 orang. Mereka rombongan dari dalam maupu luar kota. Kalau total pengunju di Makam Bung Karno sekitar 4.000 per hari,” ujar Hartono.

Meski dibangun dua lantai, posisi gedung perpustakaan tetap lebih rendah dari cungkup Makam Bung Karno yang berada di utaranya. Desain bangunan gedung perpustakaan memang direndahkan empat meter ke bawah agar tidak lebih tinggi dari pusara Bung Karno.

Di lorong perpustakaan menuju ke Makam Bung Karno juga terdapat sejumlah bangunan penuh filosofi. Misalnya, tepat di pintu masuk perpustakaan terdapat patung Bung Karno yang duduk di kursi dengan posisi kaki kiri menyilang sambil memegang buku. Berat patung itu didesain 8 kuintal, seperti bulan Kemerdekaan RI.

Lalu di sepanjang lorong terdapat pilar yang jumlahnya 21 buah yang merujuk pada tanggal wafatnya Bung Karno pada 21 Juni. Tinggi pilar 6 meter sebagai angka kelahiran Bung Karnopada 6 Juni. Jarak antara pilar satu dan pilar yang lain 4,5 meter. Angka 4 dan 5 identik dengan tahun kemerdekaan RI yakni 1945. Sedangkan anak tangga menuju ke pusara Bung Karnoberjumlah 17 yang merupakan tanggal kemerdekaan RI pada 17 Agustus.

Di selasar menuju ke pusara juga terdapat relief di dinding yang panjangnya 45 meter. Angka itu identik dengan tahun Kemerdekaan RI pada 1945. Relief yang menempel di dinding itu mengambarkan soal perjuangan pahlawan RI.

“Pintu masuk ke Makam Bung Karno sebenarnya melalui sini. Pengunjung ke Perpustakaan dulu untuk mempelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno, lalu ke pusara untuk mendoakan sang Proklamator,” kata Hartono. (*)

Curat Dan Curanmor Dominasi Kejahatan Di Kota Blitar
Pemkot Blitar Mutasi Sejumlah Pejabat Eselon III Dan IV  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.