Berita Blitar – Keterampilan rajut bisa dibilang sudah mendarah daging bagi Sunarsih (58). Sejak SD, ibu satu anak yang kini tinggal di Jl Perumnas Pakunden, Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, itu sudah keranjingan dengan keterampilan merajut.

“Saya kelahiran Malang. Sejak SD saya sudah suka merajut. Aktivitas itu saya tekuni sampai sekarang. Kadang-kadang kalau berpergian di tas saya selalu ada benang dan jarum. Kalau ada waktu luang di perjalanan saya gunakan untuk merajut,” kata perempuan yang akrab dipanggil Bu Cicik itu, saat ditemui di rumahnya, Rabu (17/5).

Dari kegemarannya itu, Cicik, bisa membuka peluang usaha sendiri. Ia membuat aneka barang kerajinan dari rajut, mulai tas rajut, pakaian rajut, sandal rajut, dan sepatu rajut. Barang-barang kerajinan hasil produksinya itu ia jual lagi. Dari sejumlah kerajinan hasil karyanya itu, yang paling populer yaitu sandal dan sepatu rajut.

“Saya mulai produksi kerajinan rajut sejak 1990. Ketika itu saya buat barang-barang untuk anak-anak. Pada 2009, saya baru mengembangkan membuat barang untuk orang dewasa, termasuk sandal dan sepatu rajut,” ujarnya.

Kerajinan sandal dan sepatu rajut karyanya banyak digemari istri-istri pejabat. Ia mengaku, istri Gubernur Jatim, Soekarwo, istri Kapores Blitar Kota, dan istri Wali Kota Blitar, sering belanja sandal dan sepatu rajut di tempatnya. Sepatu rajut karyanya memang sedikit berbeda dengan sepatu rajut lainnya. Ia menambahi sol di sepatu rajut produksinya. Kalau di daerah lain, model sepatu rajutnya tanpa sol. “Kalau pesanan, paling banyak datang dari Bali, Malang, Surabaya, dan Bogor,” katanya.

Tetapi, bagi Cicik, hasil dari usaha kerajinan rajut sebenarnya bukan yang utama. Misi dia yang utama yakni ingin menularkan kegemaran merajut ke semua orang terutama kaum perempuan. Untuk itu, tiap Senin, Selasa, dan Rabu, ia membuka kelas merajut gratis di rumahnya. Ia menggunakan garasi rumah untuk mengajar keterampilan merajut.

“Tapi, di lingkungan sini sendiri peminatnya sedikit, mungkin gengsi. Yang banyak datang ke sini untuk belajar malah dari wilayah lain. Ada satu perempuan dari Sidoarjo yang sudah tiga pekan ini rutin datang ke sini untuk belajar. Katanya tahu saya dari internet,” ujarnya.

Selain membuka kelas gratis merajut, ia juga membuat komunitas rajut Blitar. Komunitas rajut itu ia himpun dalam satu grup WhatsApp. Siapaun yang ingin belajar merajut boleh ikut komunitas tersebut. Setiap tanggal 25, ia mengadakan pertemuan dengan anggota komunitas. Tempatnya berpindah-pindah sesuai kesepakatan. Tetapi, anggota komunitas sering memilih tempat wisata yang terbuka, misalnya di Taman Kebonrojo atau di Istana Gebang.

Dalam pertemuan itu, para anggota komunitas masing-masing membawa bekal jarum dan benang. Lalu mereka duduk melingkar dan memulai aktivitas merajut bersama. “Kami pilih tempat terbuka dan tempat wisata agar banyak orang yang melihat. Harapannya mereka tertarik ikut belajar merajut,” ujarnya.

Dikatakannya, Wali Kota Blitar, M Samanhudi Anwar, berencana ingin menyatukan semua perajin rajut di Kota Blitar. Wali Kota juga berencana membikin brand untuk produksi kerajinan rajut di Blitar. Tetapi, kapan rencana itu direalisasikan, Cicik tidak tahu.

“Wali Kota pernah bilang akan membuatkan brand untuk kerajinan rajut di sini, nama brandnya Blitz. Jadi semua barang kerajinan rajut di sini akan diberi brand Blitz, meski pembuatnya beda-beda. Tapi kapan direalisasikan saya kurang tahu,” katanya. (*)

Ismarofi, Perajin Tas Batok Tanjungsari Blitar: Berawal dari Modal Utangan Rp 2 Juta Kini Beromzet Rp 50 Juta/Bulan
Sungai Unut Sutojayan Segera Dinormalisasi  
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.