Berita Blitar – Secara turun temurun masyarakat Kelurahan Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, mempercayai sebuah makam yang berada di dekat Candi Penataran itu makam seorang ulama penyiar Islam pertama di tanah Jawa, Syekh Subakir. Makam itu pula yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Makam Syekh Subakir di kelurahan setempat.

Subikhan (46) tidak bisa menjelaskan mulai kapan sebuah makam yang dipercayai sebagai makam Syekh Subakir itu mulai ada di kampungnya. Sejak ia dilahirkan pada 1971 silam makam itu sudah ada di kampungnya. Bahkan, makam itu sudah berdiri zaman kakek buyutnya.

“Kalau mulai tahun kapan berdirinya, saya tidak tahu. Sejak saya lahir makam itu sudah ada. Cerita turun temurun dari orang-orang tua di sini, makam itu dipercayai makam Syekh Subakir. Tapi sebagian lagi menyebutnya petilasan karena di tempat lain juga ada makam Syekh Subakir,” kata Subikhan yang sekarang menjadi Ketua Takmir Masjid Makam Syekh Subakir, itu, ditemui Selasa (6/6).

Menurut Babad Tanah Jawa, Syekh Subakir adalah pembuka masa Islam di Tanah Jawa sebelum Walisongo. Syekh Subakir adalah salah seorang ulama Wali Songo periode pertama yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara. Konon, Syekh Subakir adalah seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara.

Maka itu, wajar ada beberapa makam atau petilasan Syekh Subakir di Jawa. Selain di Blitar, makam atau petilasan Syekh Subakir juga ada di Gunung Tidar, Magelang. Cerita rakyat yang berkembang, dulu Syekh Subakir menumbali tanah Jawa di puncak Gunung Tidar. Gunung Tidar dianggap sentral atau saka-nya tanah Jawa. Ada cerita setelah berhasil membuka siar Islam di tanah Jawa, Syekh Subakir kembali pulang ke negara asalnya Persia.

Terlepas dari itu, makam maupaun petilasan menjadi jejak Syekh Subakir dalam menyiarkan Islam di tanah Jawa, termasuk di Blitar. Seperti yang diceritakan Subikhan, secara turun temurun masyarakat Penataran mempercayai Syekh Subakir pernah menyebarkan Islam di Blitar. Hal itu dibuktikan dengan makam Syekh Subakir yang ada di kampung itu.

Bapak dua anak itu hanya ingat, dulu hanya ada satu bangunan saja di lokasi, yakni bangunan makam Syekh Subakir. Bentuk bangunannya juga masih sederhana berupa gubuk. Tetapi, kala itu, sudah banyak masyarakat yang berziarah ke makam itu.

Pada medio 1980-an, baru ada renovasi bangunan makam. Bangunan makam yang awalnya hanya berupa pilar kayu dengan atap genteng diganti dinding batu bata. Karena banyak orang yang berziarah ke makam itu, masyarakat setempat juga menambah sebuah bangunan langgar atau musala di samping makam. Pada 1993, musala itu berkembang menjadi masjid sampai sekarang.

“Jumlah jamaahnya terus bertambah, akhirnya dijadikan masjid. Kala itu hanya mengubah tempat imam saja. Makam itu sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Makam Syekh Subakir,” ujarnya.

 Tahun ini (2017), Masjid Makam Syekh Subakir direnovasi total. Bangunan masjid lama dibongkar total rencananya diganti bangunan baru. Proses pembangunan masih berjalan. Saat Surya mendatangi lokasi, tampak sejumlah pekerja sedang mengecor pilar-pilar masjid. Ada 36 pilar masjid yang sudah berdiri meski belum sempurna.

Rencananya, Masjid Makam Sykeh Subakir dibangun dua lantai. Dari gambar maket yang dipasang di depan masjid bangunan masjid yang baru terlihat megah. Luas bangunan juga ditambah empat meter dari luas awal sekitar 90 meter persegi.

“Estimasi biaya pembangunan masjid sekitar Rp 2,5 miliar. Dana itu dari donatur, uang infak peziarah, dan swadaya masyarakat sini. Sampai sekarang biaya pembangunanya sudah keluar Rp 300 juta,” katanya. (*)

Jumlah Pengunjung Candi Penataran Turun selama Puasa: Fasilitas Masih Minim, Sering Kebanjiran
Ismarofi, Perajin Tas Batok Tanjungsari Blitar: Berawal dari Modal Utangan Rp 2 Juta Kini Beromzet Rp 50 Juta/Bulan
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.