Jpeg

Berita Blitar – Jumlah pengunjung di tempat wisata Candi Penataran, Kabupaten Blitar, menurun selama Ramadan ini. Rata-rata jumlah pengunjung yang sebelumnya 200 orang per hari, saat puasa ini tinggal 25-50 orang per hari.

Muhammad Alwi Abdilah (17) bersama teman-temannya asyik berfoto-foto dengan latar bangunan candi di kompleks wisata Candi Penataran, Minggu (18/6). Siswa SMKN 1 Polewali, Sulawesi Barat, itu mengaku kagum melihat bangunan candi di kompleks wisata Candi Penataran.

“Di tempat saya (Sulawesi Barat) tidak ada bangunan candi, adanya (bangunan) benteng. Bagus bangunan candi di sini,” kata Alwi.

Alwi bersama 20-an siswa SMP dan SMK dari Polewali, Sulbar, sedang mengisi liburan dengan rekreasi ke Candi Penataran. Selama dua pekan ini, mereka mengikuti kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kabupaten Kediri.

“Ini baru seminggu di Pare, rencananya sampai dua minggu. Hari ini libur, terus diajak rekreasi ke sini (Candi Penataran),” ujar Alwi.

Kedatangan Alwi bersama 20-an temannya, membuat suasana wisata Candi Penataran lumayan ramai. Sebelumnya, kawasan candi sepi. Padahal, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Lokasi parkir di bagian depan dekat gapura masuk ke tempat wisata juga terlihat kosong.

Hanya ada dua unit mobil yang memilih parkir di dekat lokasi candi. Parkir sepeda motor milik warga di depan candi juga kosong melompong. Biasanya, mendekati tengah hari pada hari Minggu suasan di lokasi sudah ramai.

“Puasa ini jumlah pengunjungnya turun drastis,” kata Sukriono (55), salah satu juru pelihara di Candi Penataran.

Ia menjelaskan rata-rata jumlah pengunjung di Candi Penataran sekitar 200 orang per hari. Saat akhir pekan atau hari libur, jumlah pengunjung meningkat menjadi 700 orang-1.000 orang per hari.

Pada puasa ini, rata-rata jumlah pengunjung turun menjadi 25-50 orang per hari. Sedangkan saat akhir pekan di Ramadan ini, jumlah pengunjungnya hanya mencapai 100 orang per hari. “Kalau dibandingkan dengan hari-hari di bulan bukan puasa, jumlah pengunjungnya turun jauh,” ujarnya.

Menurutnya, pengunjung di candi akan ramai kembali saat memasuki libur Lebaran. Saat libur Lebaran, jumlah pengunjung di candi bisa mencapai 1.500 orang per hari.

Ia mengeluhkan fasilitas di candi yang masih minim. Misalnya, fasilitas lampu penerangan dan tempat sampah. Lampu penerangan di candi hanya ada 15 buah. Jumlah itu masih sangat kurang. Terutama di bagian jalan masuk ke candi.

“Tempat pembuangan sampah, kami malah tidak punya. Selama ini nunut (menumpang) di lahan warga,” ujarnya.

Selain itu, kondisi saluran air di depan candi juga tidak berfungsi maksimal. Saat hujan deras, air di selokan meluap. Air dari selokan itu masuk ke dalam areal candi. “Dari Pemkab sudah pernah ngecek ke sini, tapi belum ada perbaikan sampai sekarang,” katanya.

Sekadar diketahui, Candi Penataran merupakan salah satu tempat wisata sejarah di Kabupaten Blitar. Lokasi wisata itu berada di Kelurahan Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar atau di jalur alternatif Blitar-Kediri.

Berdasarkan cerita singkat yang ditempel di papan informasi menjelaskan, Candi Penataran dibangun secara bertahap mulai abad 12 M sampai abad 15 M. Dengan begitu, kompleks candi dengan luas 180 m x 130 m itu mulai dibangun pada masa Kerajaan Kadiri, diteruskan Kerajaan Singasari, dan berakhir di masa Kerajaan Majapahit.

Kompleks candi itu memiliki tiga halaman. Halaman pertama terdiri atas Bale Agung, Ompak Empat, Pendapa Teras, Candi Angka Tahun, dan dua patung Dwarapala di bagian depan. Sedangkan di halaman dua hanya terdapat Candi Naga. Candi ini dulunya sebagai tempat menyimpan benda keramat.

Memasuki halaman tiga terdapat prasasti Palah (Penataran), Candi Induk, Candi Perwara, dan Candi Pendamping (Batur). Di halaman tiga ini juga terdapat kolam sebagai tempat pengambilan air suci. (*)

Ahwani Ekspor 3.500 Jimbe per Bulan ke Cina
Jejak Siar Islam Syekh Subakir di Blitar: Makam Jadi Cikal Bakal Berdirinya Masjid
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.