Jpeg

Berita Blitar – Lingkungan Santren, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul,Kota Blitar, bisa dibilang sentral  perajin gendang atau jimbe di kota Patria. Satu perajinnya, H Ahwani (56), yang merintis usaha itu mulai dari nol hingga kini memiliki 30 pekerja dan rutin mengekspor jimbe ke Cina tiap bulan.

H Ahwani mengamati pekerjanya yang sedang memasang kulit pada jimbe yang setengah jadi di gudang miliknya, Minggu (14/5) siang. Sesekali, bapak dua anak itu mengarahkan pekerjanya agar tidak salah memasang kulit pada jimbe yang hampir jadi itu. Pekan-pekan ini, para pekerja H Ahwani harus kerja ekstra untuk menyelesaikan pesanan jimbe yang akan dikirim ke Cina.

“Akhir bulan ini harus sudah kirim ke Cina. Jumlahnya sekitar 3.500 jimbe sekali kirim,” kata H Ahwani.

Sejak 1997, H Ahwani mulai menekuni usaha membuat kerajinan jimbe. Bakat membuat kerajinan dari kayu itu ia peroleh turun temurun dari leluhurnya. Seperti mayoritas warga di kampung itu, kakek dan orangtuanya dulu juga perajin kayu. Tetapi, dulu, kakek dan orangtuanya tidak membuat kerajinan jimbe, melainkan asbak, vas bunga, dan mainan yoyo.

Begitu tiba di generasi ketiga, Ahwani mencoba mengembangkan kerajinan kayu itu. Ia tidak hanya membuat asbak, vas bunga, dan yoyo, tapi mencoba membuat jimbe. “Saya dulu juga membuat yoyo. Malah saya pernah ikut paman jualan Yoyo di Malaysia. Itu tahun 1983 sampai 1996. Tiap tiga bulan sekali saya bolak-balik Blitar-Malaysia untuk jualan Yoyo,” ujarnya.

Tetapi perjuangan Ahwani mengembangkan kerajinan jimbe juga bukan perkara gampang. Awal-awal membuat jimbe, ia bekerja sendiri, tanpa pekerja. Ia hanya membuat jimbe setengah jadi yang kemudian disetor ke pengepul di Bali. Lambat laun, usahanya mulai berkembang. Pada 2001, ia mendapat order jimbe dari Cina.

“Dari situ kerajinan jimbe di sini semakin berkembang. Warga lain juga ikut buat jimbe. Tiap bulan, saya harus kirim rata-rata 3.500 jimbe ke Cina. Untuk memenuhi pesanan itu, sekarang saya punya 30an pekerja,” katanya.

Demi menekuni kerajinan kayu, ia harus merelakan sekolahnya. Ia protol sekolah ketika kelas 3 SMK. Kala itu, hampir tiap hari, ia bergelut dengan kayu. Ia membuat kerajinan dari kayu sekaligus memasarkannya. Tetapi, pengorbanannya itu sekarang terbayar lunas dengan usaha jimbenya yang berkembang pesat. “Sampai lupa sekolah, akhirnya mrotol waktu kelas 3 SMK. Saya dulu sekolah di SMK Negeri Blitar. Sekarang anak-anak saya, saya suruh sekolah saja,” ujarnya.

Bagi Ahwani, tantangan perajin jimbe sekarang ini, soal bahan baku. Bahan baku jimbe dari kayu mahoni. Sekarang, kayu mahoni mulai sulit didapat, terutama di wilayah Blitar. Ia harus mencari kayu mahoni ke daerah lain, seperti Tulungagung, Trenggalek, bahkan sampai Madiun. “Bahan yang bagus untuk jimbe kayu mahoni dan nangka. Kalau nangka pasti sulit. Tapi sekarang kayu mahoni juga sudah mulai sulit, harus cari ke luar kota,” katanya.

Ukuran jimbe yang diekspor bervariasi. Jimbe yang paling banyak diekspor yang tingginya mulai 30 cm dengan diameter 14 cm sampai ukuran tinggi 40 cm dengan diameter 21 cm. Harganya juga bervariasi mulai Rp 60.000 sampai Rp 250.000. “Sekarang saya hanya melayani pesanan dari Cina saja. Tidak membuat untuk lokal. Hanya kadang-kadang masih ada permintaan jimbe setengah jadi dari Bali,” jelasnya.

Seorang pekerja Ahwani, Parto (42) mengatakan pekerja yang di gudang hanya tinggal penyempurnaan saja. Biasanya pekerja tinggal membuat ukiran dan lukisan di badan jimbe sekaligus memasang kulit. Sedangkan untuk proses bubut, dikerjakan di tempat lain. “Kalau tinggal penyempurnaan, biasanya tiap orang bisa menyelesaikan 20 jimbe per hari,” katanya.

Dikatakannya, hampir setiap warga di Lingkungan Santren sekarang membuat kerajinan jimbe. Tetapi, dari sejumlah perajin, hanya ada sekitar lima pengepul besar jimbe di kampung itu. Biasanya, warga hanya mengerjakan pembuatan jimbe setengah jadi.

“Kalau di Blitar, ya di sini sentra perajin jimbe. Dulu Peppy dan Tukul Arwana juga pernah pesan jimbe dari perajin kampung sini. Pesannya di tempat kakaknya Pak Ahwani,” ujarnya. (*)

Dewan Tetapkan Perda Pengawasan dan Pengendalian Minol  
Jumlah Pengunjung Candi Penataran Turun selama Puasa: Fasilitas Masih Minim, Sering Kebanjiran
ads by Google

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.